Selasa, 27 Desember 2022

KONSEP KOMUNIKASI ISLAM DALAM SUDUT PANDANG FORMULA KOMUNIKASI EFEKTIF

 Prinsip Komunikasi Menurut Para Ulama

    Pengalaman dan sikap para ulama dianggap sebagai sumber penting dalam komunikasi Islam dan menjadi acuan bagi para ulama yang lainnya dalam memahami prinsip-prinsip komunikasi Islam yang tidak keluar dari al-Qur’an dan hadits serta ulama dapat mengambil istinbat hukum darinya (al-qur’an dan hadits) tersebut. Karena, istinbat ulama merupakan sumber hukum sekunder yang dapat dimanfaat dalam naungan sumber hukum primernya. Komunikasi Islam tidaklah bersumber dari nas (teks) yang jumut semata, tetapi bisa bersumber dari al-qur’an, hadits, fikih, pemahaman manusia, istinbat ilmiah dan lain-lain yang bersumber dari ahlnya. Peristiwa yang dialami oleh para ulama pada masanya, bisa dijakadikan pelajaran ulama pada masa setelahnya, karena ulama yang pada masanya paling tahu tentang kebutuhan komunikasi dan gaya bahasa pada masa itu. Maka manusia pasti membutuhkan manusia lainnya dalam berinteraksi sosial. Pada masa awal kedatangan Islam di kepulauan Nusantara khususnya di Jawa, masyarakat telah menganut dan memiliki kepercayaan dan agamaa seperti animisme, dinamisme, hindu dan budha.

     Pada masa itu kepercayaan dan agama tersebut telah melakat dan mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Komunikasi Islam dengan misi Islamisasi pada masa itu sangatlah tidak mudah berlangsung secara efektif dan efisien. Ini membutuhkan waktu ratusan tahun lamanya hingga akhirnya misi Islamisasi dapat di terima masyarakat jawa. Keberhasilan misi mengkomunikasikan Islam kepada masyarakat jawa tersebut merupakan kehendak Ilahi dan sudah barang tentu adanya kesunguhan dari para komunikator Islam atau yang lebih dikenal dengan “wali” merekalah yang berhasil meletakkan landasan kehidupan Islam dalam masyarakat Jawa. Dapat disimpulkan sedikitnya ada 5 saluran yang memudahkan proses komunikasi dalam upaya Islamisasi pada masa itu yaitu pertama, saluran perdangan, yang merupakan saluran dominan, kedua, saluran perkawaninan merupakan saluran lanjutan dari perdangan, ketiga, saluran tasawuf mulai berjalan pada abad ke 13 sering dominasi faham sufi di dunia Islam, keempat, saluran pendidikan mulai mendapat tempat dihati masyarakat setelah pesantren giri yang mulai terkenal pada abad 15-17 M di bawah asuhan sunan Giri dan kemudian dilanjutkan oleh sunan Prapen yang dalam bahasa asing di sebut raja Bukit. Dan yang terakhir saluran seni dengan menggabungkan seni pra Islam denga seni Islam seperti yang dilakukan oleh Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Komunikasi Islam merupakan bentuk frasa dan pemikiran yang baru muncul dalam penelitian akademik sekitar tiga dekade belakangan ini. 



    Munculnya pemikiran dan aktivisme komunikasi Islam didasarkan pada kegagalan falsafah, paradigma dan pelaksanaan komunikasi Barat yang lebih mengoptimalkan nilainilai pragmatis, materialistis serta penggunaan media secara kapitalis. Kegagalan tersebut menimbulkan implikasi negatif terutama terhadap komunitas Muslim di seluruh penjuru dunia akibat perbedaan agama, budaya dan gaya hidup dari negara-negara (Barat) yang menjadi produsen ilmu tersebut. Ilmu komunikasi Islam yang hangat diperbincangkan akhir-akhir ini terutama menyangkut teori dan prinsip-prinsip komunikasi Islam, serta pendekatan Islam tentang komunikasi. Titik penting munculnya aktivisme dan pemikiran mengenai komunikasi Islam ditandai dengan terbitnya jurnal “Media, Culture and Society” pada bulan Januari 1993 di London. Ini semakin menunjukkan jati diri komunikasi Islam yang tengah mendapat perhatian dan sorotan masyarakat tidak saja di belahan negara berpenduduk Muslim tetapi juga di negara-negara Barat. Isu-isu yang dikembangkan dalam jurnal tersebut menyangkut Islam dan komunikasi yang meliputi perspektif Islam terhadap media, pemanfaatan media massa pada era pascamodern, kedudukan dan perjalanan media massa di negara Muslim serta perspektif politik terhadap Islam dan komunikasi.

Komunikasi Islam berfokus pada teori-teori komunikasi yang dikembangkan oleh para pemikir Muslim. Tujuan akhirnya adalah menjadikan komunikasi Islam sebagai komunikasi alternatif, terutama dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang bersesuaian dengan fitrah penciptaan manusia. Kesesuaian nilai-nilai komunikasi dengan dimensi penciptaan fitrah kemanusiaan itu memberi manfaat terhadap kesejahteraan manusia sejagat. Sehingga dalam perspektif ini, komunikasi Islam merupakan proses penyampaian atau tukar menukar informasi yang menggunakan prinsip dan kaedah komunikasi dalam Alquran.1 Komunikasi Islam dengan demikian dapat didefenisikan sebagai proses penyampaian nilai-nilai Islam dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi yang sesuai dengan Alquran dan Hadis. Teori-teori komunikasi yang dikembangkan oleh Barat lebih menekankan aspek empirikal serta mengabaikan aspek normatif dan historikal. Adapun teori yang dihasilkan melalui pendekatan seperti ini sangat bersifat premature universalism dan naive empirism. Dalam konteks demikian Majid Tehranian,

2. menguraikan bahwa pendekatan ini tidak sama implikasinya dalam konteks kehidupan komunitas lain yang memiliki latar belakang yang berbeda. Sehingga dalam perspektif Islam, komunikasi haruslah dikembangkan melalui Islamic world-view yang selanjutnya menjadi azas pembentukan teori komunikasi Islam seperti aspek kekuasaan mutlak hanya milik Allah, serta peranan institusi ulama dan masjid sebagai penyambung komunikasi dan aspek pengawasan syariah yang menjadi penunjang kehidupan Muslim

     Dalam aspek perubahan sosial dan pembangunan masyarakat, komunikasi Barat cenderung bersifat positivistik dan fungsional yang berorientasi kepada individu, bukan kepada keselurusan sistem sosial dan fungsi sosiobudaya yang sangat penting untuk merangsang terjadinya perubahan sosial. Kualitas komunikasi menyangkut nilai-nilai kebenaran, kesederhanaan, kebaikan, kejujuran, integritas, keadilan, kesahihan pesan dan sumber, menjadi aspek penting dalam komunikasi Islam. Oleh karenanya dalam perspektif ini, komunikasi Islam ditegakkan atas sendi hubungan segitiga (Islamic Triangular Relationship), antara “Allah, manusia dan masyarakat”.

    Dalam Islam prinsip informasi bukan merupakan hak eksklusif dan bahan komoditi yang bersifat valuefree, tetapi ia memiliki norma-norma, etika dan moral imperatif yang bertujuan sebagai service membangun kualitas manusia secara paripurna. Jadi Islam meletakkan inspirasi tauhid sebagai parameter pengembangan teori komunikasi dan informasi. Alquran menyediakan seperangkat aturan dalam prinsip dan tata berkomunikasi. Di samping menjelaskan prinsip dan tata berkomunikasi, Alquran juga mengetengahkan etika berkomunikasi. Dari sejumlah aspek moral dan etika komunikasi, paling tidak terdapat empat prinsip etika komunikasi dalam Alquran yang meliputi fairness (kejujuran), accuracy (ketepatan/ketelitian), tanggungjawab dan kritik konstruktif.

     Dalam surah an-Nuur ayat 19 dikatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita), perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui”.Sehubungan dengan etika kejujuran dalam komunikasi, ayat-ayat Alquran memberi banyak landasan. Hal ini diungkapkan dengan adanya larangan berdusta dalam surah an-Nahl ayat 116: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”.

Dalam masalah ketelitian menerima informasi, Alquran misalnya memerintahkan untuk melakukan check and recheck terhadap informasi yang diterima. Dalam surah al-Hujurat ayat 6 dikatakan: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.

 Menyangkut masalah tanggungjawab dalam surah al-Isra’ ayat 36 dijelaskan: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawab-nya”. Alquran juga menyediakan ruangan yang cukup banyak dalam menjelaskan etika kritik konstruktif dalam berkomunikasi. Salah satunya tercantum dalam surah Ali Imran ayat 104: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”.

Analisa Konsep Komunikasi Islam Pendekatan Teori Laswell

Dalam ilmu komunikasi dikenal dengan istilah komunikasi intrapersonal, komunikasi antarpersonal dan komunikasi isyarat. Sedangkan komunikasi yang dilakukan antara manusia dengan Tuhannya, dalam ilmu komunikasi disebut dengan komunikasi transendental. Atau keempat bentuk komunikasi tersebut biasa disebut dengan istilah hablum minnallah dan habluminannas. Bentuk komunikasi transendental ini merupakan bentuk komunikasi yang jarang dibicarakan oleh manusia tetapi bentuk komunikasi inilah yang paling terpenting bagi manusia, karena berhubungan dengan nasib manusia ketika melakukan suatu tindakan dan tindakan tersebut akan dikembalikan kepada manusia baik di dunia atau di akhirat. 

    Dalam komunikasi transendental, tanda-tanda atau lambang-lambang Allah sering disebut dengan ayat-ayat Allah. Dan ayat-ayat Allah terbagi atas dua bagian ayat kauniyah dan ayat qauliyah. Kedua ayat tersebut saling berhubungan mengisi dan menjelaskan. Apabila seseorang ingin dikatakan melakukan komunikasi transendental yang baik yaitu dengan cara melakukan perintah-Nya dengan baik dan menjauhi larangan-Nya. Dan hal ini akan terlihat efek dari komunikasi transental yang baik adalah hati manusia jadi mudah tersentuh melihat fenomena ciptaan Allah seperti gunung, lautan, bulan dan bintang karena itu bukan hanya fenomena alam semata tetapi merupakan bukti kekuasaan Allah swt. Model komunikasi transendetal sebagai sebuah model komunikasi yang diberlakukan dalam struktur dan aturan proses komunikasi dalam al-Qur’an. 

    Dalam al-qur’an terdapat dua model komunikasi transendental yakni Dalam model komunikasi vertikal, istilah yang digunakan adalah penurunan (inzal dan tanzil). Sedangkan dalam model komunikasi horisontal, istilah yang digunakan adalah penyampaian (balagh, iblagh dan tabligh) bukan pengomunikasian itu sendiri, dengan asumsi bahwa: (1) Proses inzal dan tanzil itu berlangsung dari posisi yang lebih tinggi ke posisi lebih rendah (min al a’la ila al-adna). Istilah penurunan dapat berkonotasi pada upaya pemindahan sebuah benda atau berkas dari atas ke bawah. Dalam konteks ini, penurunan al-Qur’an ini bisa diartikan sebagai penurunan pesan (message) atau informasi tetapi juga bisa berarti penurunan benda atau berkas. Karena penekanan pada posisi yang lebih tinggi pada pihak komunikator begitu kuat, maka pilihan istilah lebih menggunakan penurunan dari pada pengomunikasian. (2) Proses balagh, adalah proses pemindahan objek informasi dari seseorang kepada orang lain tanpa usaha pemastian bahwa sasaran yang menerima objek informasi benar-benar telah menerimanya. Kemudian penyampaian informasi (balagh) beralih menjadi iblagh, ketika informasi ini telah sampai pada sasarannya dan masuk dalam wilayah kesadaran dan pengetahuan mereka. Sedangkan tabligh adalah penyampaian informasi dengan anggapan upaya itu merupakan tugas yang harus dilaksanakan.

    Adapun Mengenai bukti bahawa Al-Quran itu datang dari Allah, dapat dilihat dari kenyataan bahawa Al-Quran adalah sebuah kitab berbahasa Arab yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam. Dalam menentukan dari mana asal Al-Quran, akan kita dapatkan tiga kemungkinan. Kemungkinan Pertama, kitab itu merupakan karangan orang Arab. Kemungkinan Kedua, karangan Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. dan kemungkinan Ketiga, berasal dari Allah subhanahu wa ta'ala saja.Tidak ada lagi kemungkinan selain dari yang tiga ini. Sebab Al-Quran adalah khas Arab, baik dari segi bahasa maupun gayanya. Kemungkinan pertama yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah karangan orang Arab merupakan kemungkinan yang tertolak. Dalam hal ini Al-Quran sendiri telah menentang mereka untuk membuat karya yang serupa. Sebagaimana tertera dalam ayat “Katakanlah:         ‘Maka datangkanlah sepuluh surat yang (dapat) menyamainya” (Surah Hud 13). Di dalam ayat lain : “Katakanlah: (‘Kalau benar apa yang kamu katakan), maka cobalah datangkan sebuah surat yang menyerupainya” (Surah Yunus 38). 

    Orang-orang Arab telah berusaha keras mencobanya, akan tetapi tidak berhasil. Ini membuktikan bahwa Al-Quran bukan berasal dari perkataan mereka. Mereka tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, ada tentangan dari Al-Quran dan usaha dari mereka untuk menjawab tentangan itu. Kemungkinan kedua yang mengatakan bahwa Al-Quran itu karangan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam., adalah kemungkinan yang juga tidak dapat diterima oleh akal. Sebab, Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. adalah orang Arab juga. Bagaimanapun cerdiknya, tetaplah ia sebagai seorang manusia yang menjadi salah satu anggota dari masyarakat atau bangsanya. Selama seluruh bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, maka masuk akal pula apabila Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. yang juga termasuk salah seorang dari bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa. Oleh kerana itu, jelas bahwa Al-Quran itu bukan karangan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam.. Terlebih lagi dengan banyaknya hadis shahih yang berasal dari Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. yang sebagian malah diriwayatkan lewat cara yang tawatur, yang kebenarannya tidak diragukan lagi. Apabila setiap hadis dibandingkan dengan ayat manapun dalam Al-Quran, maka tidak akan dijumpai adanya kemiripan dari segi gaya bahasanya. Padahal Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam., disamping selalu membacakan setiap ayatayat yang diterimanya, dalam waktu yang bersamaan juga mengeluarkan hadis. Namun, ternyata keduanya tetap berbeda dari segi gaya sasteranya. Bagaimanapun kerasnya usaha seseorang untuk menciptakan berbagai macam gaya bahasa dalam pembicaraannya, tetap saja akan terdapat kemiripan antara gaya yang satu dengan yang lain. Kerana semua itu merupakan bagian dari ciri khasnya dalam berbicara. 

    Oleh kerana memang tidak ada kemiripan antara gaya bahasa Al-Quran dengan gaya bahasa hadis, bererti Al-Quran itu bukan perkataan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. Sebab, pada masing-masing keduanya terdapat perbezaan yang tegas dan jelas. Itulah sebabnya tidak seorang pun dari bangsa Arab, orang-orang yang paling tahu gaya dan sastera bahasa arab, pernah menuduh bahwa Al-Quran itu perkataan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. atau mirip dengan gaya bicaranya. Satu-satunya tuduhan yang mereka lontarkan adalah bahawa Al-Quran itu dicipta Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. dari seorang pemuda Nasrani yang bernama Jabr. Tuduhan ini pun telah ditolak keras oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya : “(Dan) Sesungguhnya Kami mengetahui mereka berkata: ‘Bahwasanya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya (adalah) bahasa ‘ajami (bukan-Arab), sedangkan Al-Quran itu dalam bahasa arab yang jelas” (Surah An-Nahl 103).

Pesan (Message) dalam Konsep Komunikasi Islam 

Pesan (message) yang disampaikan dalam komunikasi Islam selalu merujuk pada al-Qur’an (wahyu), Hadits sebagai perkataan, perbuaatn dan taqrir (perbuatan sahabat) Nabi Muhammad SAW dan interpretasi ajaran Islam oleh para ulama (ijtihad).

 Al-Qur’an (Wahyu)

    Keberadaan al-qur’an sebagai wujud komunikasi teologis antara Tuhan dengan mahluknya ditegaskan dalam QS. 4 : 166 yang menyatakan bahwa Allah dan para malaikat menjadi saksi atas kebenaran bahwa ia wahyu dari Tuhan “(mereka tidak mau mengikuti yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui alQur’an yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya.” (QS. 4:166)

    Penegasan-penegasan seperti ini perlu diberikan oleh al-Qur’an sebab berbagai “penolakan” yang dihadapi oleh Rasul dalam penyampaian wahyu tersebut demikian kuat, berbagai tekanan secara manusiawi bisa mengakibatkan pertanyaan-pertanyaan batin dalam diri Nabi sendiri, apakah yang dibawanya itu benar wahyu? Kalau ia apakah wahyu itu dari Tuhan? Kalau memang benar dari Tuhan mengapa mereka tidak mau percaya? Mengapa mereka menganggapnya “kebohongan” dan seterusnya.

    Pada berbagai kalimat ujaran yang berupa wahyu itu kemudian menjadi teks dapat terlihat pola komunikasi yang terus menerus selama hayat rasulullah SAW dengan Tuhannya. Bermula dari perintah membaca dalam Qs. 96 ayat 1, kemudian turunnya wahyu setelah berhenti sejenak (Qs. 93 :3) sampai pada akhirnya turun wahyu beberapa hari menjelang wafatnya. (Qs. 2:281). Selain itu dalam bentuk kalimat teks al-Qur’an seperti penggunaan kata perintah Qul (katakanlah), kata tanya A’lam? (apakah kamu belum tahu?) araa’ita (bagaimana pendapatmu?) menunjuk pada komunikasi timbal balik atara Tuhan dengan Nabi. Banyak bentuk kalimat-kalimat lain yang menggunakan shigat i’stifham (kalimat tanya) dan juga kalimat berita yang mencerminkan praktek komunikasi seperti bentuk kalimat berita yas’alunaka mengindikasi “sifat responsif” Tuhan terhadap persoalan yang di hadapi Rasul-Nya. 

    Teori cara penurunan wahyu yang dikemukakan oleh ulama ada dua cara : melalui perantara malaikat jibril, dan tanpa perantara (kalam Allah langsung) dan melalui mimpi yang jadi kenyataan. Kemudian proses penurunnya melalui beberapa tahapan dari Tuhan ke Lauhilmahfudz ke Baitul ‘Izah di langit bumi dalam satu malam di bulan ramadhan (Lailatul Qadar) dari langit bumi ke duni (hati Nabi Muhammad SAW) berangsur-angsur 23 tahun. Sebagaimana halnya dengan komunikasi interpersonal antara sesama manusia, dibutuhkan juga beberapa syarat pencapaiannya, seperti kebersihan penerima, tidak adanya noise dan tersedianya energi (listrik) yang dibutuhkan, demikian juga komunikasi Illahiyah. Teori kebersihan jiwa yang akan melahirkan kedekatan (memperpendek-jarak) sehingga berhasil komunikasi tanpa noise.

Hadits 

    Hadits dapat diartikan sama dengan sunah segala sesuatu yang datang dari rasulullah baik sebelum menjadi rasul atau ketika menjadi rasul, kan tetapi kalau kita memandang lafadz hadits secara umum adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw. setelah diangkat menjadi nabi, yang berupa ucapan, perbuatan, dan taqrir beliau. Oleh sebab itu, sunah lebih umum daripada hadits. Berkenaan dengan pemakaian media komunikasi dalam al-Sunah, Muhammad ‘Ajaj al-Khatib menyatakan bahwa Rasulullah SAW menggunakan berbagai cara dan metode komunikasi dan penyampaian pesan yang ada pada masa itu, maka ia mengirim delegasi, melayangkan surat mengarahkan para pemimpin dan qadli. 

    Dari ungkapan ini bisa dipahami bahwa dalam tradisi arab pada waktu itu media komunikasi berupa surat dan delegasi yang menyampaikan pesan. Media yang digunakan Nabi Muhammad SAW dalam rangka mendidik para sahabatnya suka memanfaatkan gambar di tanah sebagai alat bantu komunikasinya. Hasits yang diriwayatkan Abdullah berikut mengisahkan bagaimana Nabi melukis di tanah untuk menerapkan posisi manusia-ajal dan cita-citanya. Dan dari Ibn Mas’ud semoga Allah meridhoinya, ia berkata : Nabi SAW menggambar segi empat, lalu membuat garis ditengahnya yang keluar dari segi empat itu, lalu membuat garis kecil-kecil menuju pada kotak segi empat tersebut dari pinggir-pinggirnya seraya berkata : “ini manusia, ini ajal mengelilinginya dan yang diluar ini adalah cita-citanya, dan garis-garis kecil ini merupakan berbagai kemungkinan yang bisa mengenai manusia (al-A’Radl) jika yang ini salah maka yang lain akan mempengaruhinya, dan jika yang lain salah maka yang lain akan mempengaruhinya (HR. Bukhori).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pelanggaran Etika Komunikasi