Manajemen Menurut Islam
Menurut Saefullah ada empat persyaratan yang harus ada dalam manajemen Islami, yaitu sebagai berikut :
a. Landasan nilai-nilai akhlak islami. Manajemen islami harus berdasarkan universalitas nilai yaitu, kasih sayang, kejujuran, kemanusiaan, keadilan dan kesederajatan insane.
b. Seluruh aktivitas manajemen merupakan salah satu bentuk penghambaan kepada Allah swt. nilai-nilai ibadah harus dibangun dengan landasan ketauhidan.
c. Hubungan atasan dengan bawahan merupakan hubungan persaudaraan umat Islam, hubungan antar manusia yang sederajat, egalitarian, dan berprinsip pada nilai-nilai universalitas kemanusiaan, kebangsaan, kemerdekaan, dan keseimbangan antara hak dan kewajiban. Kebaikan seorang pemimpin pada bawahannya tidak akan sia- sia apabila dilandasi oleh niat yang baik. Oleh sebab itu, segala bentuk kebaikan yang diberikan harus berdasarkan niat baik karena Allah swt.
d. Manajemen Islam yang dilandasi oleh etika dan nilai agama, menjadi salah satu alternatif dalam menyelesaikan problema individu dan sosial ditengah-tengah zaman yang semakin tidak menentu secara moral. Apabila ada keinginan untuk mengembangkan secara professional yang sesuai dengan aturan ilmu yang telah disepakati, perlu diperjelas pengertian manajemen Islam secara epistemologis Islam menetapkan bahwa manajemen merupakan aktivitas yang berlandaskan nilai-nilai keadilan, yang merupakan perbuatan pimpinan yang tidak menyakiti atau menzalimi bawahan. Bentuk penganiayaan yang dimaksudkan adalah mengurangi atau tidak memberikan hak bawahan untuk bekerja melebihi ketentuan. Apabila seorang manajer mengharuskan bawahannya bekerja melampaui waktu yang ditentukan, telah menzalimi bawahannya. Hal ini sangat ditentang Islam.
Dalam Islam, unsur kejujuran dan kepercayaan sangat penting diterapkan dalam manajemen. Nabi Muhammad saw adalah seorang yang sangat tepercaya dalam menjalankan manajemen bisnisnya. Manajemen yang dicontohkan Nabi Muhammad saw. Menempatkan manusia sebagai fokusnya, bukan sebagai faktor produksi yang hanya diperas tenaganya untuk mengejar target produksi.
2. Manajemen Pendidikan Islam
Manajemen Pendidikan Islam secara bahasa merupakan terdiri dari tiga kata, yaitu: manajemen, pendidikan dan Islam. Namun secara konseptual tidak ditemukan perbedaan yang ekstrim konsep manajemen umum dan manajemen Islam, sedang pendidikan Islam sudah menemukan terminologi tersendiri bahkan telah menjadi “bangunan ilmu” tersendiri. Manajemen sangat bergantung pada orang yang mengartikannya. Perbedaan ini biasanya karena terdapat perbedaan latar belakang pendidikan, objek kajian, dan latar sosial para ahli secara sederhana. Manajemen merupakan usaha atau tindakan ke arah pencapaian tujuan, sistem kerja sama, dan melibatkan secara optimal kontribusi orang- orang, dana, fisik dan sumber- sumber lainnya.
Dalam pendidikan, manajemen adalah aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Pendidikan menurut Islam mengembangkan, melatih, mengfungsionalkan serta mengoptimalkan fungsi-fungsi manusia yang telah dianugerahkan oleh Allah swt, secara integral sebagai manifestasi dari rasa syukur kepada-Nya. Manajemen Pendidikan Islam adalah aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan,2 serta suatu proses kerja sama yang sistematik, dan komprehensif dalam rangka mewujudkan pendidikan Nasional.3 Dalam konteks pendidikan Islam, sumber pendidikan Islam dan tujuan pendidikan Islam.
Tujuan pendidikan Islam yaitu menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknis supaya dapat menguasai potensi tertentu, agar ia dapat mencapai rezeki dalam hidup di samping memelihara segi keruhanian, serta keseimbangan pertumbuhan dari pribadi muslim secara menyeluruh. Melalui akal pikiran, kecerdasan, dan panca indera, sehingga memiliki kepribadian yang terintegrasi, mulia dan utama sehingga terbentuklah insan kamil bermental sehat yang dapat mendekatkan diri kepada Allah swt serta dapat merasakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Produktivitas dan kepuasan, seperti peningkatan mutu pendidikan /kelulusan, pemenuhan kesempatan kerja, pembangunan daerah/ nasional, tanggung jawab sosial. Dengan ketaqwaan, akhlak al-karimah yang tercermin dalam sikap tingkah laku sesuai dengan ajaran-ajaran Islam, adalah sebagai tujuan manajemen pendidikan Islam. Manajemen pendidikan merupakan proses pengembangan kegiatan kelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk kelangsungannya. Sesuatu dalam hal ini adalah sumber daya, perangkat, dan harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses, a) sumber daya manusia (SDM), yaitu: kepala madrasah, guru, sumber belajar, siswa, karyawan, keamanan, dan sumberdaya selebihnya yaitu: peralatan, perlengkapan, uang, bahan, dan lain sebagainya. b) Perangkat meliputi struktur organisasi sekolah, peraturan perudang-undangan, diskripsi tugas, rencana, program, dan lain sebagainya. c) Sedangkan harapan-harapan berupa visi, misi, tujuan , dan sasaran-saran yang ingin dicapai lembaga pendidikan.
Dalam pendidikan bersekala mikro (tingkat sekolah), proses pendidikan adalah proses pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajar mengajar, dan proses monitoring dan evaluasi. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian pemaduan input madrasah (guru, siswa, uang, kurikulum, peralatan, dll.) dilakukan secara harmonis, sehingga menciptakan situasi pembelajaran yang mampu mendorong motivasi minat belajar dan memperdayakan peserta didik tidak sekedar menguasai pengetahuan saja. Pengetahuan tersebut juga menjadi muatan nurani peserta didik, dihayati, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, serta lebih penting lagi mampu mengembangkan diri.
Output (keluaran) pendidikan adalah merupakan kinerja madrasah. Kinerja ini dapat diukur dengan kualitasnya, efektivitasnya, efesiensinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerjanya, dan moralnya. Output dapat dikatakan bermutu jika prestasi siswa tersebut menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam 1) prestasi akademik; nilai ulangan umum, UAN, karya ilmiah, lomba-lomba akademik; 2) prestasi non akademik, seperti iman taqwa, kejujuran, kesopanan, olah raga, kesenian, dan kegiatan ekstrakurikuler yang lain.
Outcame (hasil) pendidikan adalah dampak output setelah dikeluarkan. Dampak 33 tersebut merupakan ukuran dari hasil pendidikan dalam dunia kerja sesuai dengan kosentrasi pendidikan yang diperoleh, seperti lulusan Fak. Tarbiyah menjadi guru, SPK menjadi perawat, dll.
Mutu pendidikan Islam pada dasarnya dipengaruhi oleh banyaknya tahapantahapan kegiatan yang saling berhubungan, seperti: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Sehingga peranan manajemen pada semua lini (input, proses, output, dan outcome) tersebut mutlak diperlukan.
3. Komunikasi
Secara etimologis, komunikasi berasal dari bahasa Latin, yaitu cum, sebuah kata depan yang artinya dengan atau bersama dengan, dan kata unit sebuah kata bilangan yang berarti satu. Dua kata tersebut membentuk kata benda communion, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan communion, yang berarti kebersamaan, persatuan, persekutuan gabungan, pergaulan dan hubungan. Karena untuk bercommunio diperlukan adanya usaha dan kerja, kata itu dibuat kata kerja communicate yang berarti membagi sesuatu dengan seseorang, tukar menukar, membicarakan sesuatu dengan orang, memberikan sesuatu kepada seseorang, bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan, berteman.Jadi, komunikasi berarti pemberitahuan pembicaraan, percakapan, pertukaran pikiran atau hubungan.
Menurut Rosadi Ruslan, kata komunikasi berasal dari perkataan bahasa Latin: communication yang berarti “pemberitahuan” atau “pertukaran pikiran”. Dengan demikian maka secara garis besar dalam suatu proses komunikasi harus terdapat unsur-unsur kesamaan makna agar terjadi suatu pertukaran pikiran atau pengertian, antara komunikator (penyebar pesan) dan komunikan (penerima Pesan)5 . Dari pengertian komunikasi tersebut di atas, ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam komunikasi, antara lain sebagai berikut: a. Komunikasi dipandang sebagai suatu proses. Ini berarti bahwa komunikasi merupakan suatu aliran informasi melalui serangkaian atau urutan beberapa tahap atau langkah yang bersifat dinamis.
b. Pengiriman informasi. Arti yang sesuai dengan definisi komunikasi adalah pengiriman informasi. Informasi tidak hanya dikirim begitu saja, tetapi harus diterima dan dipahami. Apabila informasi dikirimkan oleh sesorang dan tidak diterima oleh orang lain yang menjadi sasaran komunikasi, atau diterima, atau tidak ditafsirkan secara tepat, terjadilah “miss communication”
c. Mencakup aspek manusia dan bukan manusia. Dalam penyampain pesan atau informasi lainnya dibutuhkan cara-cara yang tepat atau teknik komunikasi yang sesuai antara penyampaian pesan dan penerima pesan atau antara komunikator dan komunikan. Dengan teknik komunikasi yang tepat, komunikasi yang memberikan dampak tertentu bagi komunikan sehingga mendatangkan kesepahaman terhadap maksud-maksud yang terdapat dalam informasi yang dikomunikasikan.
Dengan pemehaman tersebut di atas, komunikasi harus dilakukan dengan tujuan-tujuan yang tepat. Tujuan komunikasi adalah sebagai berikut :
1) Perubahan sikap (attitude change)
2) Perubahan perilaku (behavior change)
3) Perubahan pendapat/pandangan (opinion change)
4) Perubahan sosial (social change)
Komunikasi yang disampaikan secara komunikatif dapat mengubah sikap, perilaku, pendapat/pandangan dan kehidupan sosial seseorang. Hal ini dimungkinkan karena kegiatan komunikasi bukan hanya membuat orang lain mengerti dan mengetahui informatif tetapi juga bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, ajakan, perbuatan atau kegiatan (persuasif).
Manajemen Pendidikan Islam adalah aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan serta suatu proses kerja sama yang sistematik, dan komprehensif dalam rangka mewujudkan pendidikan Nasional. Dalam konteks pendidikan Islam, sumber pendidikan Islam dan tujuan pendidikan Islam. Dalam kegitan suatu organisasi atau lembaga khusunya dalam hal pengelolaan pendidikan tentunya tidak terlepas dengan komunikasi. Oleh sebab itu suatu manajemen pendidikan akan berhasil apabilla terjadinya suatu proses komunikasi yang baik dan sesuai dengan harapan, di mana gagasan-gagasan atau ide dibahas dalam suatu musyawarah antara komunikator dengan komunikan, sehingga terjadi pemahaman tentang informasi 42 atau segala sesuatu hal menjadi pokok dari pembahasan untuk mengarah pada kesepakatan dan kesatuan dalam pendapat. Berdasarkan hal tersebut, bahwa tujuan dari suatu organisasi atau instansi tentunya dapat tercapai secara optimal apabila proses komunikasinya lancar tanpa adanya suatu hambatan, walaupun ada hambatan, maka komunikator dan komunikan harus dengan cermat segera mengatasi permasalahan yang menyebabkan terjadi suatu hambatan, sehingga proses komunikasi dapat berlangsung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar