Pada hakekatnya usia komunikasi berbanding lurus dengan usia keberadaan manusia kali pertama diciptakan. Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah di muka bumi ini. Sejak awal kebe– radaannya, Allah sudah menyiapkan untuk Adam perangkat-perangkat yang memungkinkannya untuk berkomunikasi. Perangkat itu adalah lidah dan segala pendukungnya, pendengaran, penglihatan dan hati. Allah menciptakan telinga agar manusia bisa mendengar. Allah men– ciptakan mata agar manusia bisa melihat. Dan Allah juga menciptakan fu’ad (hati) agar manusia bisa berpikir dan merasa, serta bisa berkomunikasi dengan Allah Swt. Sebagaimana Allah SWT berfirman:
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaikbaiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”
Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “memulai penciptaan manusia dari tanah” adalah Adam, bapak seluruh manusia. Sedangkan kata naslahu artinya adalah anak keturunan Adam. Berdasarkan ayat ini dipahami bahwa Adam maupun anak keturunannya termasuk diciptakan oleh Allah dengan perangkat komunikasi yang sama.
Setelah perangkat komunikasi berupa lisan, pendengaran, pengli– hatan dan fu’ad (hati) semuanya sudah siap dan berfungsi, maka Allah swt mulai berkomunikasi dengan Adam. Komunikasi pertama adalah saat Allah mengajarkan kepadanya seluruh asma’ (kosa kata). Lalu sete– lah itu, Adam diperintahkan oleh Allah untuk mengajarkan kepada para malaikat kosa kata yang telah diajarkan padanya. Allah berfirman :
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (bendabenda) seluruhnya. Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, "Sebutkanlah kepada-Ku nama bendabenda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah ke– pada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahu– kannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman, "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (QS. Al-Baqarah: 30-33)
Menurut pendapat ulama tafsir bahwa yang dimaksud dengan ungkapan asma’ kullaha adalah pengenalan satu persatu objek yang ada di muka bumi seperti nama anak-anak, nama binatang seperti keledai, unta dan kuda, langit, bumi, dataran, lautan, bejana, panci, sampai tempat untuk menyimpan alat-alat kecantikan. Bahkan Ibnu Katsir (1993; 70) mengatakan yang dimaksud asma’ kullaha bukan sekedar kata benda, tetapi juga kata kerja.
Dengan kosa kata tersebut maka manusia saling memahami apa yang masing-masing pihak maksudkan. Ketika pesan yang akan dikomunikasikan berupa kosa kata sudah diajarkan kepada Adam dan kepada para malaikat, maka Allah men– ciptakan Hawwa sebagai pasangan hidup dan teman Adam untuk ber– komunikasi. Allah Maha tahu tentang kebutuhan manusia yang tidak mungkin hidup tanpa teman dan tanpa berkomunikasi. Allah swt berfirman:
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang ba– nyak dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (memper– gunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah sela– lu menjaga dan mengawasi kamu.”
Tetapi selain Adam dan Hawwa ada makhluk lain yang juga diciptakan oleh Allah dan memiliki pengaruh besar terhadap masa depan kehidupan manusia, baik ataupun buruknya. Makhluk itu adalah Malaikat dan Iblis. Allah menciptakan malaikat yang taat dan tidak pernah membangkang perintah-Nya, dan di sisi lain menciptakan Iblis yang membangkang perintah-Nya. Diantara tugas malaikat adalah membantu manusia untuk melakukan kebaikan. Sedangkan Iblis di hadapan Allah sudah bertekad untuk menghalang-halangi manusia dari jalan Allah swt. Dua jenis makhluk ini memang secara fisik tidak bisa dilihat oleh manusia, tetapi memiliki peran cukup signifikan dalam kehidupan manusia.
Cara yang mereka lakukan adalah masuk ke dalam hati manusia. Malaikat berkomunikasi dengan manusia dengan cara memerintahkan yang baik, sedangkan Iblis atau syetan membisikkan kejahatan Al-Quran menceritakan kepada pembacanya tentang bisikan Iblis kepada Adam dan Hawwa. Dengan tipu dayanya, Iblis mampu masuk ke dalam pikiran Adam dan Hawwa lewat pintu keabadian. Iblis yang tahu psikologi manusia yang senang dengan keabadian mendapatkan peluang untuk menggoda Adam dan Hawwa. Iblis lalu mengatakan kepada Adam dan Hawwa bahwa larangan Allah mendekati pohon ‘alkhuld’ itu maksudnya adalah agar Adam dan Hawwa tidak abadi di surga. Tapi kalau mereka memakannya maka mereka berdua akan merasakan kenikmatan surga selama-lamanya. Bisikan tersebut ternyata mendapatkan tempat di hati Adam dan Hawwa yang akhirnya keduanya takluk dan mengikuti bisikan dari Iblis. Allah berfirman:
Al-Quran menceritakan kepada pembacanya tentang bisikan Iblis kepada Adam dan Hawwa. Dengan tipu dayanya, Iblis mampu masuk ke dalam pikiran Adam dan Hawwa lewat pintu keabadian. Iblis yang tahu psikologi manusia yang senang dengan keabadian mendapatkan peluang untuk menggoda Adam dan Hawwa. Iblis lalu mengatakan kepada Adam dan Hawwa bahwa larangan Allah mendekati pohon ‘alkhuld’ itu maksudnya adalah agar Adam dan Hawwa tidak abadi di surga. Tapi kalau mereka memakannya maka mereka berdua akan merasakan kenikmatan surga selama-lamanya. Bisikan tersebut ternyata mendapatkan tempat di hati Adam dan Hawwa yang akhirnya keduanya takluk dan mengikuti bisikan dari Iblis. Allah berfirman:
“(Dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah ka– mu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buahbuahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mende– kati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga). Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Se– sungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua. Maka syaitan membujuk keduanya (un– tuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya auratauratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daundaun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (QS. Al-A’râf: 19-22)
Dari ayat-ayat tersebut diatas banyak sekali informasi yang yang disampaikan tentang keberadaan komunikasi. Di antara pelajaran yang dapat ambil berdasarkan informasi dari al-Quran di atas adalah:
a. Komunikasi sudah disiapkan oleh Allah sejak manusia pertama diciptakan.
b. Perangkat komunikasi paling penting yang diciptakan Allah pendengaran, penglihatan, dan fu’ad (hati).
c. Dengan perangkat komunikasi, Adam mendapatkan kesempatan terhormat untuk berkomunikasi dengan Allah, Sang Pencipta. Ini adalah bentuk komunikasi manusia dengan Penciptanya.
d. Manusia memerlukan teman untuk berkomunikasi, buat berbagi rasa dan untuk mendapatkan ketenangan hidup. Untuk mewu– judkan tujuan tersebut Allah menciptakan Hawwa. Komunikasi Adam dengan Hawwa adalah bentuk komunikasi dengan sesama manusia.
e. Komunikasi lain yang terjadi pada manusia adalah komunikasi dalam diri yang dipengaruhi oleh bisikan baik dari malaikat ataupun bisikan buruk yang berasal dari syetan. Dengan bisikan itu manusia bisa baik dan bisa juga buruk.
f. Informasi lain yang juga dapat diserap oleh pembaca al-Quran di antaranya adalah tentang jumlah kosa kata yang diajarkan oleh Allah kepada Adam. Informasi ini menunjukkan bahwa kosa kata yang diajarkan Allah kepada Adam sangat banyak, sehingga memungkinkannya untuk mengomunikasikan semua hal yang beliau inginkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar