Selasa, 27 Desember 2022

KOMUNIKASI YANG EFEKTIF



 Komunikasi akan dapat berjalan dengan efektif manakala ada beberapa aturan dan kaidah yang diikuti, yaitu: 

1. Komunikator menghargai setiap individu, orang maupun kelompok yang dijadikan sasaran komunikasi. Hal ini mensyaratkan bahwa seseorang yang melakukan komunikasi bisa menempatkan diri, tidak menganggap dirinya sebagai orang yang paling tahu dan paling benar. 

2. Komunikator harus mampu menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi orang lain. Setiap orang yang melakukan komunikasi harus mampu mendengar dan dan siap menerima masukan apapun dengan sikap yang positif. Hal ini akan sangat sulit dilakukan manakala orang tersebut tidak dapat dikritik atau tidak siap menerima kritik. Menerima kritik memang tidak mudah. Tetapi kemampuan untuk menerima apapun masukan dengan sikap baik akan membawa pengaruh positif pada orang tersebut. 

3. Pesan diterima oleh penerima pesan dan dapat didengarkan dengan baik. Hal ini berkaitan dengan media yang digunakan. Seringkali orang melakukan komunikasi dengan individu maupun kelompok, tetapi pesan tidak dapat dipahami karena media atau alat yang digunakan tidak mendukung. Misalnya, suara di telepon putus-putus, atau microphon yang mendengung, atau suara di telepon yang terlalu lemah. Beberapa hal tersebut mengakibatkan penerima pesan kesulitan  memahami isi pesan. Akibatnya selain tidak respon, pemberi pesan justru tidak akan didengarkan atau diperhatikan. 

4. Kejelasan pesan sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi. Hampir mirip efeknya dengan permasalahan media yang rusak, maka bagian ini berkaitan dengan kejelasan isi pesan itu sendiri. Misalnya apabila pemberi pesan menggunakan istilah-istilah yang sulit dipahami oleh penerima pesan, maka jelas akan sulit bagi penerima pesan untuk memahami isi pesan dan akhirnya umpan balik juga tidak akan muncul. Demikian juga bila pemberi pesan tidak jelas dalam menyampaikan pesan akibat penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan latar belakang penerima pesan, maka akan muncul berbagai interpretasi. Akhirnya isi pesan akan bergeser, dan komunikasi tidak dapat mencapai tujuannya.

5. Berkaitan dengan sikap rendah hati dan mau mendengarkan orang lain Hal ini berkaitan dengan karakter dan sikap individu masing-masing, baik pemberi maupun penerima pesan. Termasuk di dalam sikap dan sifat ini adalah kerelaan untuk rendah hati, menghargai, dan mau mendengarkan orang lain.

Berikut skil skil dalam berkomunikasi dengan efektif

https://vt.tiktok.com/ZS8kNpJu8/

PERAN KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI


 Pada dasarnya organisasi adalah suatu kesatuan sosial dari sekelompok manusia yang saling berinteraksi menurut suatu pola tertentu sehingga setiap anggota organisasi memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing, yang sebagai suatu kesatuan mempunyai tugas tujuan tertentu dan mempunyai batas-batas yang jelas, sehingga bisa dipisahkan secara tegas dari lingkungannya. Dari berbagai definisi tentang organisasi dapat disimpulkan bahwa organisasi adalah merupakan suatu wadah/tempat proses kegiatan orang-orang yang bekerja sama, mempunyai fungsi dan wewenang untuk mengerjakan usaha mencapai tujuan yang telah ditentukan. Organisasi tumbuh berkembang seiring dengan perkembangan lingkungan sosial yang dinamis.

 


Keberadaan suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh beberapa aspek diantaranya penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Agar  dapat mencapai tujuan itu, organisasi memerlukan sistem  manajemen efektif  yang akan menunjang jalannya organisasi secara terus-menerus dan tingkat efektivitas kerja pegawai juga perlu diperhatikan.  Pada umumnya organisasi memiliki beberapa bagian yakni  bagian  pemasaran, bagian keuangan, bagian produksi, bagian sumber daya manusia, dan  bagian administrasi.  Masing-masing bagian tersebut  melaksanakan kegiatan yang berbeda tetapi tetap saling berhubungan satu sama lain.  Tingkat kegiatan yang  dilaksanakan organisasi akan mengalami perubahan dari  suatu periode ke periode berikutnya.

 

Dalam pelaksanaan organisasi itu sendiri, terdapat beragam permasalahan yang terjadi mulai dari posisi terendah sampai ke tingkat decision maker itu sendiri. Permasalahan itu sendiri harus segera diselesaikan agar tidak terjadi menjadi bumerang yang akan menghancurkan organisasi itu sendiri. Permasalahan yang sering ditemui dalam organisasi adalah komunikasi yang tidak berjalan dengan baik. Komunikasi tidak terjalin baik secara vertical maupun horizontal.

 

Komunikasi berasal dari bahasa latin “communis” atau ‘common” dalam Bahasa Inggris yang berarti sama. Berkomunikasi berarti kita berusaha untuk mencapai kesamaan makna, “commonness”. Atau dengan ungkapan yang lain, melalui komunikasi kita mencoba berbagi informasi, gagasan atau sikap kita dengan orang lainnya. Kendala utama dalam berkomunikasi adalah seringkali kita mempunyai persepsi yang berbeda terhadap objek yang sama. Manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial yang mana di dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Komunikasi merupakan elemen penting dalam organisasi. Karena tanpa adanya komunikasi segala sesuatunya pasti tidak akan berjalan baik. Kemungkinan besar akan terjadi Miss Komunikasi dengan rekan kerja atau atasan yang dampaknya cukup besar bagi individu maupun organisasi.

 

Miss komunikasi adalah adanya kesalahpahaman antara kedua belah pihak dalam mencerna proses komunikasi, sehingga antara pesan yang disampaikan dan pesan yang diterima berbeda arti dan penafsirannya. Jika kondisi ini terus berlanjut tentu akan membawa dampak yang sangat buruk bagi kelangsungan organsiasi. Bukan tidak mungkin akibat dari miss komunikasi adalah munculnya onflik-konflik di dalam organisasi.

 

Secara sosiologis, konflik dapat diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) di mana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Hal-hal yang menyebabkan konflik biasanya adalah :

1.      Kesalingtergantungan

2.      Perbedaan tujuan

3.      Perbedaan persepsi

4.      Kenakan permintaan.

 

Akibat-akibat dari konflik itu sendiri beragam. Beberapa pendapat (tradisional)  menyatakan bahwa konflik hanyalah merupakan gejala abnormal yang mempunyai akibat-akibat negatif sehingga perlu dilenyapkan. Hal ini dapat diartikan bahwa akibat yang ditimbulkan adalah Disfungsional. Akan tetapi sebenarnya konflik juga dapat mengakibatkan dampak yang baik dalam hal ini dapat diartikan sebagai dampak fungsional. Konflik merupakan hasil dari kemajemukan sistem organisasi. Lalu jika demikian, apa yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan konflik dalam organiasai. Ada beberapa cara untuk melakukan penanganan konflik.

 

Yang pertama adalah intropeksi diri. Introspeksi diri adalah proses pengamatan terhadap diri sendiri dan pengungkapan pemikiran dalam yang disadari, keinginan, dan sensasi. Proses tersebut berupa proses mental yang disadari dan biasanya dengan maksud tertentu dengan berlandaskan pada pikiran dan perasaannya. Dari sini kita dapat mencoba menilai diri kita sendiri dan tentu menilai apa yang sudah kita lakukan.

 

Yang kedua adalah mengevaluasi pihak yang terlibat. Hal ini sangat penting kita lakukan untuk dapat meningkatkan peluang menyelesaikan konflik. Dalam pelaksanaannya ita perlu melihat konflik dari berbagai sudut pandang sehingga kita dapat melihat berbagai kepentingan dari berbagai sudut pandang Kita dapat mengidentifikasi kepentingan apa saja yang mereka miliki, bagaimana nilai dan sikap mereka atas konflik tersebut dan apa perasaan mereka atas terjadinya konflik. Kesempatan kita untuk sukses dalam menangani konflik semakin besar jika kita melihat konflik yang terjadi dari semua sudut pandang.

 

Selanjutnya dalam penanganan konflik kita dapat memilih beberapa tindakan salah satunya adalah kompromi. Kompromi dapat dilakukan jika kedua belah pihak sama-sama memandang bahwa hubungan baik adalah hal yang sangat penting. Masing-masing pihak bahkan dapat mengorbankan kepentingannya untuk bisa mendapatkan win-win solution.


Selain itu juga kita bisa memilih untuk berkompetisi, berkolaborasi, atau akomodasi bahkan menghindari konflik. Tetapi lebih dari itu semua adalah bahwa komunikasi sangat diperlukan pada setiap pilihan penanganan konflik. Berbagai model atau gaya komunikasi dapat kita terapkan dalam mencoba menyelesaikan konflik di dalam organisasi. Apakah itu komunikasi linear, transactional, interaksional. Kesemuanya sangat berpengaruh terhadap kesuksesan resolusi konflik. Untuk itu kreatifitas kita dalam memilih gaya berkomunikasi sangat menentukan terhadap penyelesaian konflik dan tentu pada akhirnya adalah tercapainya tujuan organisasi.

Prinsip Komunikasi Islam di Media

 Komunikasi merupakan bagian kekal dari kehidupan manusia, seperti halnya bernapas, sepanjang manusia hidup, maka manusia perlu Wilbur Schramm menyatakan, “Wecannot not communicate:’ Kita tidak bisa untuk tidak berkomunikasi.

Pada era teknologi komunikasi ini, kita dapat menggunakan media untuk berkomunikasi. Pada abad ke-20, media massa menjadi salah satu kekuatan besar untuk memengaruhi audiens.

Namun, saat ini, ketika teknologi komunikasi semakin berkembang, media internet dan media sosial menjadi salah satu kekuatan dalam upaya memengaruhi khalayak.

Harvey (2014) menunjukkan telah terjadi pergeseran paradigma antropologis pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21,yaitu ada perubahan relasi antarmanusia dan perangkat elektronika yang dirancang untuk melayani manusia, dengan kehadiran teknologi komunikasi personal yang mobile.

Realitas yangterjadi saat ini, media sosial dijadikan sebagai “alat” untuk membentuk atau menggiring opini publik.Berita-berita bohong (hoaks), ujaran kebencian yang menjurus SARA, berita provokasi bertebaran di media sosial. Berita-berita tersebut sengaja “ditiupkan” sekelompok orang dalam upaya menggiring opini publik.

El-Nawawy dan Khamis (2013) menunjukkan, kebanyakan konten yang dibuat pengguna disebarluaskan melalui media sosial. lnilah yang membuat media sosial menjadi pembentukan opini publik. Pesan media sosial lepas dari kendali sensor pemerintah dan menyebar dari satu akun ke akun lain tanpa bisa dikendalikan siapa pun.

Ada baiknya ketika kita berkomunikasi di media sosial memperhatikan prinsip komunikasi dalam perspektif Islam.Prinsip komunikasi Islam selaras dengan filosofi kearifan lokal budaya Indonesia karena adanya proses akulturasi budaya antara Islam dan budaya Indonesia.

Rachmat Kriyantono (2014) menjelaskan, kata dasar berkomunikasi dalam Islam disebut al-qaul/qawl (artinya perkataan) dan a/-bayan (artinya menjelaskan), yang artinya sebagai kemampuan berkomunikasi mencakup pemilihan kata-kata yang dapat menjelaskan sesuatu. Inti dari komunikasi yang efektif yaitu komunikasi yang diarahkan untuk mencapai keseimbangan antara aspek vertikal dan horizontal atau hablum minanas dan hablum minallah. Wujud keseimbangan ini adalah adanya komunikasi yang informatif, faktual, edukatif, dan berguna bagi keuntungan bersama.



Ada beberapa prinsip komunikasi Islam yang harus diperhatikan apabila kita berkomunikasi dengan orang lain. Pertama, qaulan sadiddan, yaitu prinsip komunikasi yang mengutamakan kejujuran, mengatakan  kebenaran sesuai fakta, akurasi, obyektif, dan tidak manipulatif yang membohongi khalayak. Kedua, qaulan balighan, yaitu prinsip komunikasi yangtepat lugas (komunikatif), fasih,dan jelas maknanya.

Ketiga, qaulan maysuran, bermakna ucapan yang mudah dicerna, dimengerti khalayak, atau dengan kata lain ketika berkomunikasi menggunakan kata-kata yang menyenangkan

atau menggembirakan orang lain. Keempat, qau/an layyinan, yaitu prinsip komunikasi yang mengedepankan persuasi-solusi dengan kata-kata yang lemah lembut, tidak provokatif. tidak menjatuhkan martabat orang lain.

Kelima, qau/an kariman, yaitu prinsip menjalin relasi yang baik dan membangun tata krama dan etiket-etiket dalam berkomunikasi. Keenam, qau/an ma’rufan, yaitu prinsip menyosialisasikan dan mengajak pada kebaikan. Ketujuh, diskusi atau berdebat dengan cara yang baik,jangan sampai diskusi menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat.

Komunikasi yang kita lakukan pada orang lain merupakan “presentasi diri” kita kepada orang lain. Erving Goffman dalam buku The Presentation of Se/fin Everyday Life (1961) membuat metafora kehidupan sosial sebagai panggung pertunjukan. Artinya, ketika kita berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain di media sosial dengan menggunakan kata-kata yang kurang sopan, memfitnah, merendahkan orang lain, itu merupakan “gambaran diri” atau “konsep diri” kita kepada orang lain. lmpresi atau kesan seperti itulah yang ingin kita tanamkan kepada orang lain.

Mengutip pendapat Antar Venus mengenai nilai-nilai komunikasi (2015), ada beberapa nilai-nilai komunikasi yang harus diperhatikan ketika kita berkomunikasi kepada orang lain.Di antaranya, penghargaan (respect), kerja sama (cooperation) dan kesepahaman (mutual understanding), kesantunan (modesty)

KONSEP KOMUNIKASI ISLAM DALAM SUDUT PANDANG FORMULA KOMUNIKASI EFEKTIF

 Prinsip Komunikasi Menurut Para Ulama

    Pengalaman dan sikap para ulama dianggap sebagai sumber penting dalam komunikasi Islam dan menjadi acuan bagi para ulama yang lainnya dalam memahami prinsip-prinsip komunikasi Islam yang tidak keluar dari al-Qur’an dan hadits serta ulama dapat mengambil istinbat hukum darinya (al-qur’an dan hadits) tersebut. Karena, istinbat ulama merupakan sumber hukum sekunder yang dapat dimanfaat dalam naungan sumber hukum primernya. Komunikasi Islam tidaklah bersumber dari nas (teks) yang jumut semata, tetapi bisa bersumber dari al-qur’an, hadits, fikih, pemahaman manusia, istinbat ilmiah dan lain-lain yang bersumber dari ahlnya. Peristiwa yang dialami oleh para ulama pada masanya, bisa dijakadikan pelajaran ulama pada masa setelahnya, karena ulama yang pada masanya paling tahu tentang kebutuhan komunikasi dan gaya bahasa pada masa itu. Maka manusia pasti membutuhkan manusia lainnya dalam berinteraksi sosial. Pada masa awal kedatangan Islam di kepulauan Nusantara khususnya di Jawa, masyarakat telah menganut dan memiliki kepercayaan dan agamaa seperti animisme, dinamisme, hindu dan budha.

     Pada masa itu kepercayaan dan agama tersebut telah melakat dan mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Komunikasi Islam dengan misi Islamisasi pada masa itu sangatlah tidak mudah berlangsung secara efektif dan efisien. Ini membutuhkan waktu ratusan tahun lamanya hingga akhirnya misi Islamisasi dapat di terima masyarakat jawa. Keberhasilan misi mengkomunikasikan Islam kepada masyarakat jawa tersebut merupakan kehendak Ilahi dan sudah barang tentu adanya kesunguhan dari para komunikator Islam atau yang lebih dikenal dengan “wali” merekalah yang berhasil meletakkan landasan kehidupan Islam dalam masyarakat Jawa. Dapat disimpulkan sedikitnya ada 5 saluran yang memudahkan proses komunikasi dalam upaya Islamisasi pada masa itu yaitu pertama, saluran perdangan, yang merupakan saluran dominan, kedua, saluran perkawaninan merupakan saluran lanjutan dari perdangan, ketiga, saluran tasawuf mulai berjalan pada abad ke 13 sering dominasi faham sufi di dunia Islam, keempat, saluran pendidikan mulai mendapat tempat dihati masyarakat setelah pesantren giri yang mulai terkenal pada abad 15-17 M di bawah asuhan sunan Giri dan kemudian dilanjutkan oleh sunan Prapen yang dalam bahasa asing di sebut raja Bukit. Dan yang terakhir saluran seni dengan menggabungkan seni pra Islam denga seni Islam seperti yang dilakukan oleh Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Komunikasi Islam merupakan bentuk frasa dan pemikiran yang baru muncul dalam penelitian akademik sekitar tiga dekade belakangan ini. 



    Munculnya pemikiran dan aktivisme komunikasi Islam didasarkan pada kegagalan falsafah, paradigma dan pelaksanaan komunikasi Barat yang lebih mengoptimalkan nilainilai pragmatis, materialistis serta penggunaan media secara kapitalis. Kegagalan tersebut menimbulkan implikasi negatif terutama terhadap komunitas Muslim di seluruh penjuru dunia akibat perbedaan agama, budaya dan gaya hidup dari negara-negara (Barat) yang menjadi produsen ilmu tersebut. Ilmu komunikasi Islam yang hangat diperbincangkan akhir-akhir ini terutama menyangkut teori dan prinsip-prinsip komunikasi Islam, serta pendekatan Islam tentang komunikasi. Titik penting munculnya aktivisme dan pemikiran mengenai komunikasi Islam ditandai dengan terbitnya jurnal “Media, Culture and Society” pada bulan Januari 1993 di London. Ini semakin menunjukkan jati diri komunikasi Islam yang tengah mendapat perhatian dan sorotan masyarakat tidak saja di belahan negara berpenduduk Muslim tetapi juga di negara-negara Barat. Isu-isu yang dikembangkan dalam jurnal tersebut menyangkut Islam dan komunikasi yang meliputi perspektif Islam terhadap media, pemanfaatan media massa pada era pascamodern, kedudukan dan perjalanan media massa di negara Muslim serta perspektif politik terhadap Islam dan komunikasi.

Komunikasi Islam berfokus pada teori-teori komunikasi yang dikembangkan oleh para pemikir Muslim. Tujuan akhirnya adalah menjadikan komunikasi Islam sebagai komunikasi alternatif, terutama dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang bersesuaian dengan fitrah penciptaan manusia. Kesesuaian nilai-nilai komunikasi dengan dimensi penciptaan fitrah kemanusiaan itu memberi manfaat terhadap kesejahteraan manusia sejagat. Sehingga dalam perspektif ini, komunikasi Islam merupakan proses penyampaian atau tukar menukar informasi yang menggunakan prinsip dan kaedah komunikasi dalam Alquran.1 Komunikasi Islam dengan demikian dapat didefenisikan sebagai proses penyampaian nilai-nilai Islam dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi yang sesuai dengan Alquran dan Hadis. Teori-teori komunikasi yang dikembangkan oleh Barat lebih menekankan aspek empirikal serta mengabaikan aspek normatif dan historikal. Adapun teori yang dihasilkan melalui pendekatan seperti ini sangat bersifat premature universalism dan naive empirism. Dalam konteks demikian Majid Tehranian,

2. menguraikan bahwa pendekatan ini tidak sama implikasinya dalam konteks kehidupan komunitas lain yang memiliki latar belakang yang berbeda. Sehingga dalam perspektif Islam, komunikasi haruslah dikembangkan melalui Islamic world-view yang selanjutnya menjadi azas pembentukan teori komunikasi Islam seperti aspek kekuasaan mutlak hanya milik Allah, serta peranan institusi ulama dan masjid sebagai penyambung komunikasi dan aspek pengawasan syariah yang menjadi penunjang kehidupan Muslim

     Dalam aspek perubahan sosial dan pembangunan masyarakat, komunikasi Barat cenderung bersifat positivistik dan fungsional yang berorientasi kepada individu, bukan kepada keselurusan sistem sosial dan fungsi sosiobudaya yang sangat penting untuk merangsang terjadinya perubahan sosial. Kualitas komunikasi menyangkut nilai-nilai kebenaran, kesederhanaan, kebaikan, kejujuran, integritas, keadilan, kesahihan pesan dan sumber, menjadi aspek penting dalam komunikasi Islam. Oleh karenanya dalam perspektif ini, komunikasi Islam ditegakkan atas sendi hubungan segitiga (Islamic Triangular Relationship), antara “Allah, manusia dan masyarakat”.

    Dalam Islam prinsip informasi bukan merupakan hak eksklusif dan bahan komoditi yang bersifat valuefree, tetapi ia memiliki norma-norma, etika dan moral imperatif yang bertujuan sebagai service membangun kualitas manusia secara paripurna. Jadi Islam meletakkan inspirasi tauhid sebagai parameter pengembangan teori komunikasi dan informasi. Alquran menyediakan seperangkat aturan dalam prinsip dan tata berkomunikasi. Di samping menjelaskan prinsip dan tata berkomunikasi, Alquran juga mengetengahkan etika berkomunikasi. Dari sejumlah aspek moral dan etika komunikasi, paling tidak terdapat empat prinsip etika komunikasi dalam Alquran yang meliputi fairness (kejujuran), accuracy (ketepatan/ketelitian), tanggungjawab dan kritik konstruktif.

     Dalam surah an-Nuur ayat 19 dikatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita), perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui”.Sehubungan dengan etika kejujuran dalam komunikasi, ayat-ayat Alquran memberi banyak landasan. Hal ini diungkapkan dengan adanya larangan berdusta dalam surah an-Nahl ayat 116: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”.

Dalam masalah ketelitian menerima informasi, Alquran misalnya memerintahkan untuk melakukan check and recheck terhadap informasi yang diterima. Dalam surah al-Hujurat ayat 6 dikatakan: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.

 Menyangkut masalah tanggungjawab dalam surah al-Isra’ ayat 36 dijelaskan: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawab-nya”. Alquran juga menyediakan ruangan yang cukup banyak dalam menjelaskan etika kritik konstruktif dalam berkomunikasi. Salah satunya tercantum dalam surah Ali Imran ayat 104: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”.

Analisa Konsep Komunikasi Islam Pendekatan Teori Laswell

Dalam ilmu komunikasi dikenal dengan istilah komunikasi intrapersonal, komunikasi antarpersonal dan komunikasi isyarat. Sedangkan komunikasi yang dilakukan antara manusia dengan Tuhannya, dalam ilmu komunikasi disebut dengan komunikasi transendental. Atau keempat bentuk komunikasi tersebut biasa disebut dengan istilah hablum minnallah dan habluminannas. Bentuk komunikasi transendental ini merupakan bentuk komunikasi yang jarang dibicarakan oleh manusia tetapi bentuk komunikasi inilah yang paling terpenting bagi manusia, karena berhubungan dengan nasib manusia ketika melakukan suatu tindakan dan tindakan tersebut akan dikembalikan kepada manusia baik di dunia atau di akhirat. 

    Dalam komunikasi transendental, tanda-tanda atau lambang-lambang Allah sering disebut dengan ayat-ayat Allah. Dan ayat-ayat Allah terbagi atas dua bagian ayat kauniyah dan ayat qauliyah. Kedua ayat tersebut saling berhubungan mengisi dan menjelaskan. Apabila seseorang ingin dikatakan melakukan komunikasi transendental yang baik yaitu dengan cara melakukan perintah-Nya dengan baik dan menjauhi larangan-Nya. Dan hal ini akan terlihat efek dari komunikasi transental yang baik adalah hati manusia jadi mudah tersentuh melihat fenomena ciptaan Allah seperti gunung, lautan, bulan dan bintang karena itu bukan hanya fenomena alam semata tetapi merupakan bukti kekuasaan Allah swt. Model komunikasi transendetal sebagai sebuah model komunikasi yang diberlakukan dalam struktur dan aturan proses komunikasi dalam al-Qur’an. 

    Dalam al-qur’an terdapat dua model komunikasi transendental yakni Dalam model komunikasi vertikal, istilah yang digunakan adalah penurunan (inzal dan tanzil). Sedangkan dalam model komunikasi horisontal, istilah yang digunakan adalah penyampaian (balagh, iblagh dan tabligh) bukan pengomunikasian itu sendiri, dengan asumsi bahwa: (1) Proses inzal dan tanzil itu berlangsung dari posisi yang lebih tinggi ke posisi lebih rendah (min al a’la ila al-adna). Istilah penurunan dapat berkonotasi pada upaya pemindahan sebuah benda atau berkas dari atas ke bawah. Dalam konteks ini, penurunan al-Qur’an ini bisa diartikan sebagai penurunan pesan (message) atau informasi tetapi juga bisa berarti penurunan benda atau berkas. Karena penekanan pada posisi yang lebih tinggi pada pihak komunikator begitu kuat, maka pilihan istilah lebih menggunakan penurunan dari pada pengomunikasian. (2) Proses balagh, adalah proses pemindahan objek informasi dari seseorang kepada orang lain tanpa usaha pemastian bahwa sasaran yang menerima objek informasi benar-benar telah menerimanya. Kemudian penyampaian informasi (balagh) beralih menjadi iblagh, ketika informasi ini telah sampai pada sasarannya dan masuk dalam wilayah kesadaran dan pengetahuan mereka. Sedangkan tabligh adalah penyampaian informasi dengan anggapan upaya itu merupakan tugas yang harus dilaksanakan.

    Adapun Mengenai bukti bahawa Al-Quran itu datang dari Allah, dapat dilihat dari kenyataan bahawa Al-Quran adalah sebuah kitab berbahasa Arab yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam. Dalam menentukan dari mana asal Al-Quran, akan kita dapatkan tiga kemungkinan. Kemungkinan Pertama, kitab itu merupakan karangan orang Arab. Kemungkinan Kedua, karangan Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. dan kemungkinan Ketiga, berasal dari Allah subhanahu wa ta'ala saja.Tidak ada lagi kemungkinan selain dari yang tiga ini. Sebab Al-Quran adalah khas Arab, baik dari segi bahasa maupun gayanya. Kemungkinan pertama yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah karangan orang Arab merupakan kemungkinan yang tertolak. Dalam hal ini Al-Quran sendiri telah menentang mereka untuk membuat karya yang serupa. Sebagaimana tertera dalam ayat “Katakanlah:         ‘Maka datangkanlah sepuluh surat yang (dapat) menyamainya” (Surah Hud 13). Di dalam ayat lain : “Katakanlah: (‘Kalau benar apa yang kamu katakan), maka cobalah datangkan sebuah surat yang menyerupainya” (Surah Yunus 38). 

    Orang-orang Arab telah berusaha keras mencobanya, akan tetapi tidak berhasil. Ini membuktikan bahwa Al-Quran bukan berasal dari perkataan mereka. Mereka tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, ada tentangan dari Al-Quran dan usaha dari mereka untuk menjawab tentangan itu. Kemungkinan kedua yang mengatakan bahwa Al-Quran itu karangan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam., adalah kemungkinan yang juga tidak dapat diterima oleh akal. Sebab, Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. adalah orang Arab juga. Bagaimanapun cerdiknya, tetaplah ia sebagai seorang manusia yang menjadi salah satu anggota dari masyarakat atau bangsanya. Selama seluruh bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, maka masuk akal pula apabila Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. yang juga termasuk salah seorang dari bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa. Oleh kerana itu, jelas bahwa Al-Quran itu bukan karangan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam.. Terlebih lagi dengan banyaknya hadis shahih yang berasal dari Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. yang sebagian malah diriwayatkan lewat cara yang tawatur, yang kebenarannya tidak diragukan lagi. Apabila setiap hadis dibandingkan dengan ayat manapun dalam Al-Quran, maka tidak akan dijumpai adanya kemiripan dari segi gaya bahasanya. Padahal Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam., disamping selalu membacakan setiap ayatayat yang diterimanya, dalam waktu yang bersamaan juga mengeluarkan hadis. Namun, ternyata keduanya tetap berbeda dari segi gaya sasteranya. Bagaimanapun kerasnya usaha seseorang untuk menciptakan berbagai macam gaya bahasa dalam pembicaraannya, tetap saja akan terdapat kemiripan antara gaya yang satu dengan yang lain. Kerana semua itu merupakan bagian dari ciri khasnya dalam berbicara. 

    Oleh kerana memang tidak ada kemiripan antara gaya bahasa Al-Quran dengan gaya bahasa hadis, bererti Al-Quran itu bukan perkataan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. Sebab, pada masing-masing keduanya terdapat perbezaan yang tegas dan jelas. Itulah sebabnya tidak seorang pun dari bangsa Arab, orang-orang yang paling tahu gaya dan sastera bahasa arab, pernah menuduh bahwa Al-Quran itu perkataan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. atau mirip dengan gaya bicaranya. Satu-satunya tuduhan yang mereka lontarkan adalah bahawa Al-Quran itu dicipta Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. dari seorang pemuda Nasrani yang bernama Jabr. Tuduhan ini pun telah ditolak keras oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya : “(Dan) Sesungguhnya Kami mengetahui mereka berkata: ‘Bahwasanya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya (adalah) bahasa ‘ajami (bukan-Arab), sedangkan Al-Quran itu dalam bahasa arab yang jelas” (Surah An-Nahl 103).

Pesan (Message) dalam Konsep Komunikasi Islam 

Pesan (message) yang disampaikan dalam komunikasi Islam selalu merujuk pada al-Qur’an (wahyu), Hadits sebagai perkataan, perbuaatn dan taqrir (perbuatan sahabat) Nabi Muhammad SAW dan interpretasi ajaran Islam oleh para ulama (ijtihad).

 Al-Qur’an (Wahyu)

    Keberadaan al-qur’an sebagai wujud komunikasi teologis antara Tuhan dengan mahluknya ditegaskan dalam QS. 4 : 166 yang menyatakan bahwa Allah dan para malaikat menjadi saksi atas kebenaran bahwa ia wahyu dari Tuhan “(mereka tidak mau mengikuti yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui alQur’an yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya.” (QS. 4:166)

    Penegasan-penegasan seperti ini perlu diberikan oleh al-Qur’an sebab berbagai “penolakan” yang dihadapi oleh Rasul dalam penyampaian wahyu tersebut demikian kuat, berbagai tekanan secara manusiawi bisa mengakibatkan pertanyaan-pertanyaan batin dalam diri Nabi sendiri, apakah yang dibawanya itu benar wahyu? Kalau ia apakah wahyu itu dari Tuhan? Kalau memang benar dari Tuhan mengapa mereka tidak mau percaya? Mengapa mereka menganggapnya “kebohongan” dan seterusnya.

    Pada berbagai kalimat ujaran yang berupa wahyu itu kemudian menjadi teks dapat terlihat pola komunikasi yang terus menerus selama hayat rasulullah SAW dengan Tuhannya. Bermula dari perintah membaca dalam Qs. 96 ayat 1, kemudian turunnya wahyu setelah berhenti sejenak (Qs. 93 :3) sampai pada akhirnya turun wahyu beberapa hari menjelang wafatnya. (Qs. 2:281). Selain itu dalam bentuk kalimat teks al-Qur’an seperti penggunaan kata perintah Qul (katakanlah), kata tanya A’lam? (apakah kamu belum tahu?) araa’ita (bagaimana pendapatmu?) menunjuk pada komunikasi timbal balik atara Tuhan dengan Nabi. Banyak bentuk kalimat-kalimat lain yang menggunakan shigat i’stifham (kalimat tanya) dan juga kalimat berita yang mencerminkan praktek komunikasi seperti bentuk kalimat berita yas’alunaka mengindikasi “sifat responsif” Tuhan terhadap persoalan yang di hadapi Rasul-Nya. 

    Teori cara penurunan wahyu yang dikemukakan oleh ulama ada dua cara : melalui perantara malaikat jibril, dan tanpa perantara (kalam Allah langsung) dan melalui mimpi yang jadi kenyataan. Kemudian proses penurunnya melalui beberapa tahapan dari Tuhan ke Lauhilmahfudz ke Baitul ‘Izah di langit bumi dalam satu malam di bulan ramadhan (Lailatul Qadar) dari langit bumi ke duni (hati Nabi Muhammad SAW) berangsur-angsur 23 tahun. Sebagaimana halnya dengan komunikasi interpersonal antara sesama manusia, dibutuhkan juga beberapa syarat pencapaiannya, seperti kebersihan penerima, tidak adanya noise dan tersedianya energi (listrik) yang dibutuhkan, demikian juga komunikasi Illahiyah. Teori kebersihan jiwa yang akan melahirkan kedekatan (memperpendek-jarak) sehingga berhasil komunikasi tanpa noise.

Hadits 

    Hadits dapat diartikan sama dengan sunah segala sesuatu yang datang dari rasulullah baik sebelum menjadi rasul atau ketika menjadi rasul, kan tetapi kalau kita memandang lafadz hadits secara umum adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw. setelah diangkat menjadi nabi, yang berupa ucapan, perbuatan, dan taqrir beliau. Oleh sebab itu, sunah lebih umum daripada hadits. Berkenaan dengan pemakaian media komunikasi dalam al-Sunah, Muhammad ‘Ajaj al-Khatib menyatakan bahwa Rasulullah SAW menggunakan berbagai cara dan metode komunikasi dan penyampaian pesan yang ada pada masa itu, maka ia mengirim delegasi, melayangkan surat mengarahkan para pemimpin dan qadli. 

    Dari ungkapan ini bisa dipahami bahwa dalam tradisi arab pada waktu itu media komunikasi berupa surat dan delegasi yang menyampaikan pesan. Media yang digunakan Nabi Muhammad SAW dalam rangka mendidik para sahabatnya suka memanfaatkan gambar di tanah sebagai alat bantu komunikasinya. Hasits yang diriwayatkan Abdullah berikut mengisahkan bagaimana Nabi melukis di tanah untuk menerapkan posisi manusia-ajal dan cita-citanya. Dan dari Ibn Mas’ud semoga Allah meridhoinya, ia berkata : Nabi SAW menggambar segi empat, lalu membuat garis ditengahnya yang keluar dari segi empat itu, lalu membuat garis kecil-kecil menuju pada kotak segi empat tersebut dari pinggir-pinggirnya seraya berkata : “ini manusia, ini ajal mengelilinginya dan yang diluar ini adalah cita-citanya, dan garis-garis kecil ini merupakan berbagai kemungkinan yang bisa mengenai manusia (al-A’Radl) jika yang ini salah maka yang lain akan mempengaruhinya, dan jika yang lain salah maka yang lain akan mempengaruhinya (HR. Bukhori).

URGENSI KOMUNIKASI DALAM MANAJEMEN

 Manajemen Menurut Islam

Menurut Saefullah ada empat persyaratan yang harus ada dalam manajemen Islami, yaitu sebagai berikut :

a. Landasan nilai-nilai akhlak islami. Manajemen islami harus berdasarkan universalitas nilai yaitu, kasih sayang, kejujuran, kemanusiaan, keadilan dan kesederajatan insane.

b. Seluruh aktivitas manajemen merupakan salah satu bentuk penghambaan kepada Allah swt. nilai-nilai ibadah harus dibangun dengan landasan ketauhidan. 

c. Hubungan atasan dengan bawahan merupakan hubungan persaudaraan umat Islam, hubungan antar manusia yang sederajat, egalitarian, dan berprinsip pada nilai-nilai universalitas kemanusiaan, kebangsaan, kemerdekaan, dan keseimbangan antara hak dan kewajiban. Kebaikan seorang pemimpin pada bawahannya tidak akan sia- sia apabila dilandasi oleh niat yang baik. Oleh sebab itu, segala bentuk kebaikan yang diberikan harus berdasarkan niat baik karena Allah swt. 

d. Manajemen Islam yang dilandasi oleh etika dan nilai agama, menjadi salah satu alternatif dalam menyelesaikan problema individu dan sosial ditengah-tengah zaman yang semakin tidak menentu secara moral. Apabila ada keinginan untuk mengembangkan secara professional yang sesuai dengan aturan ilmu yang telah disepakati, perlu diperjelas pengertian manajemen Islam secara epistemologis Islam menetapkan bahwa manajemen merupakan aktivitas yang berlandaskan nilai-nilai keadilan, yang merupakan perbuatan pimpinan yang tidak menyakiti atau menzalimi bawahan. Bentuk penganiayaan yang dimaksudkan adalah mengurangi atau tidak memberikan hak bawahan untuk bekerja melebihi ketentuan. Apabila seorang manajer mengharuskan bawahannya bekerja melampaui waktu yang ditentukan, telah menzalimi bawahannya. Hal ini sangat ditentang Islam. 

    Dalam Islam, unsur kejujuran dan kepercayaan sangat penting diterapkan dalam manajemen. Nabi Muhammad saw adalah seorang yang sangat tepercaya dalam menjalankan manajemen bisnisnya. Manajemen yang dicontohkan Nabi Muhammad saw. Menempatkan manusia sebagai fokusnya, bukan sebagai faktor produksi yang hanya diperas tenaganya untuk mengejar target produksi.

2. Manajemen Pendidikan Islam

    Manajemen Pendidikan Islam secara bahasa merupakan terdiri dari tiga kata, yaitu: manajemen, pendidikan dan Islam. Namun secara konseptual tidak ditemukan perbedaan yang ekstrim konsep manajemen umum dan manajemen Islam, sedang pendidikan Islam sudah menemukan terminologi tersendiri bahkan telah menjadi “bangunan ilmu” tersendiri. Manajemen sangat bergantung pada orang yang mengartikannya. Perbedaan ini biasanya karena terdapat perbedaan latar belakang pendidikan, objek kajian, dan latar sosial para ahli secara sederhana. Manajemen merupakan usaha atau tindakan ke arah pencapaian tujuan, sistem kerja sama, dan melibatkan secara optimal kontribusi orang- orang, dana, fisik dan sumber- sumber lainnya. 

      Dalam pendidikan, manajemen adalah aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Pendidikan menurut Islam mengembangkan, melatih, mengfungsionalkan serta mengoptimalkan fungsi-fungsi manusia yang telah dianugerahkan oleh Allah swt, secara integral sebagai manifestasi dari rasa syukur kepada-Nya. Manajemen Pendidikan Islam adalah aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan,2 serta suatu proses kerja sama yang sistematik, dan komprehensif dalam rangka mewujudkan pendidikan Nasional.3 Dalam konteks pendidikan Islam, sumber pendidikan Islam dan tujuan pendidikan Islam. 

    Tujuan pendidikan Islam yaitu menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknis supaya dapat menguasai potensi tertentu, agar ia dapat mencapai rezeki dalam hidup di samping memelihara segi keruhanian, serta keseimbangan pertumbuhan dari pribadi muslim secara menyeluruh. Melalui akal pikiran, kecerdasan, dan panca indera, sehingga memiliki kepribadian yang terintegrasi, mulia dan utama sehingga terbentuklah insan kamil bermental sehat yang dapat mendekatkan diri kepada Allah swt serta dapat merasakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Produktivitas dan kepuasan, seperti peningkatan mutu pendidikan /kelulusan, pemenuhan kesempatan kerja, pembangunan daerah/ nasional, tanggung jawab sosial. Dengan ketaqwaan, akhlak al-karimah yang tercermin dalam sikap tingkah laku sesuai dengan ajaran-ajaran Islam, adalah sebagai tujuan manajemen pendidikan Islam. Manajemen pendidikan merupakan proses pengembangan kegiatan kelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. 

    Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk kelangsungannya. Sesuatu dalam hal ini adalah sumber daya, perangkat, dan harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses, a) sumber daya manusia (SDM), yaitu: kepala madrasah, guru, sumber belajar, siswa, karyawan, keamanan, dan sumberdaya selebihnya yaitu: peralatan, perlengkapan, uang, bahan, dan lain sebagainya. b) Perangkat meliputi struktur organisasi sekolah, peraturan perudang-undangan, diskripsi tugas, rencana, program, dan lain sebagainya. c) Sedangkan harapan-harapan berupa visi, misi, tujuan , dan sasaran-saran yang ingin dicapai lembaga pendidikan.

Dalam pendidikan bersekala mikro (tingkat sekolah), proses pendidikan adalah proses pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajar mengajar, dan proses monitoring dan evaluasi. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian pemaduan input madrasah (guru, siswa, uang, kurikulum, peralatan, dll.) dilakukan secara harmonis, sehingga menciptakan situasi pembelajaran yang mampu mendorong motivasi minat belajar dan memperdayakan peserta didik tidak sekedar menguasai pengetahuan saja. Pengetahuan tersebut juga menjadi muatan nurani peserta didik, dihayati, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, serta lebih penting lagi mampu mengembangkan diri.     

    Output (keluaran) pendidikan adalah merupakan kinerja madrasah. Kinerja ini dapat diukur dengan kualitasnya, efektivitasnya, efesiensinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerjanya, dan moralnya. Output dapat dikatakan bermutu jika prestasi siswa tersebut menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam 1) prestasi akademik; nilai ulangan umum, UAN, karya ilmiah, lomba-lomba akademik; 2) prestasi non akademik, seperti iman taqwa, kejujuran, kesopanan, olah raga, kesenian, dan kegiatan ekstrakurikuler yang lain.

Outcame (hasil) pendidikan adalah dampak output setelah dikeluarkan. Dampak 33 tersebut merupakan ukuran dari hasil pendidikan dalam dunia kerja sesuai dengan kosentrasi pendidikan yang diperoleh, seperti lulusan Fak. Tarbiyah menjadi guru, SPK menjadi perawat, dll.

     Mutu pendidikan Islam pada dasarnya dipengaruhi oleh banyaknya tahapantahapan kegiatan yang saling berhubungan, seperti: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Sehingga peranan manajemen pada semua lini (input, proses, output, dan outcome) tersebut mutlak diperlukan. 

3. Komunikasi 

    Secara etimologis, komunikasi berasal dari bahasa Latin, yaitu cum, sebuah kata depan yang artinya dengan atau bersama dengan, dan kata unit sebuah kata bilangan yang berarti satu. Dua kata tersebut membentuk kata benda communion, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan communion, yang berarti kebersamaan, persatuan, persekutuan gabungan, pergaulan dan hubungan. Karena untuk bercommunio diperlukan adanya usaha dan kerja, kata itu dibuat kata kerja communicate yang berarti membagi sesuatu dengan seseorang, tukar menukar, membicarakan sesuatu dengan orang, memberikan sesuatu kepada seseorang, bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan, berteman.Jadi, komunikasi berarti pemberitahuan pembicaraan, percakapan, pertukaran pikiran atau hubungan.

    Menurut Rosadi Ruslan, kata komunikasi berasal dari perkataan bahasa Latin: communication yang berarti “pemberitahuan” atau “pertukaran pikiran”. Dengan demikian maka secara garis besar dalam suatu proses komunikasi harus terdapat unsur-unsur kesamaan makna agar terjadi suatu pertukaran pikiran atau pengertian, antara komunikator (penyebar pesan) dan komunikan (penerima Pesan)5 . Dari pengertian komunikasi tersebut di atas, ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam komunikasi, antara lain sebagai berikut: a. Komunikasi dipandang sebagai suatu proses. Ini berarti bahwa komunikasi merupakan suatu aliran informasi melalui serangkaian atau urutan beberapa tahap atau langkah yang bersifat dinamis. 

b. Pengiriman informasi. Arti yang sesuai dengan definisi komunikasi adalah pengiriman informasi. Informasi tidak hanya dikirim begitu saja, tetapi harus diterima dan dipahami. Apabila informasi dikirimkan oleh sesorang dan tidak diterima oleh orang lain yang menjadi sasaran komunikasi, atau diterima, atau tidak ditafsirkan secara tepat, terjadilah “miss communication” 

c. Mencakup aspek manusia dan bukan manusia. Dalam penyampain pesan atau informasi lainnya dibutuhkan cara-cara yang tepat atau teknik komunikasi yang sesuai antara penyampaian pesan dan penerima pesan atau antara komunikator dan komunikan. Dengan teknik komunikasi yang tepat, komunikasi yang memberikan dampak tertentu bagi komunikan sehingga mendatangkan kesepahaman terhadap maksud-maksud yang terdapat dalam informasi yang dikomunikasikan.

Dengan pemehaman tersebut di atas, komunikasi harus dilakukan dengan tujuan-tujuan yang tepat. Tujuan komunikasi adalah sebagai berikut : 

1) Perubahan sikap (attitude change) 

2) Perubahan perilaku (behavior change) 

3) Perubahan pendapat/pandangan (opinion change) 

4) Perubahan sosial (social change)

    Komunikasi yang disampaikan secara komunikatif dapat mengubah sikap, perilaku, pendapat/pandangan dan kehidupan sosial seseorang. Hal ini dimungkinkan karena kegiatan komunikasi bukan hanya membuat orang lain mengerti dan mengetahui informatif tetapi juga bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, ajakan, perbuatan atau kegiatan (persuasif).

    Manajemen Pendidikan Islam adalah aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan serta suatu proses kerja sama yang sistematik, dan komprehensif dalam rangka mewujudkan pendidikan Nasional. Dalam konteks pendidikan Islam, sumber pendidikan Islam dan tujuan pendidikan Islam. Dalam kegitan suatu organisasi atau lembaga khusunya dalam hal pengelolaan pendidikan tentunya tidak terlepas dengan komunikasi. Oleh sebab itu suatu manajemen pendidikan akan berhasil apabilla terjadinya suatu proses komunikasi yang baik dan sesuai dengan harapan, di mana gagasan-gagasan atau ide dibahas dalam suatu musyawarah antara komunikator dengan komunikan, sehingga terjadi pemahaman tentang informasi 42 atau segala sesuatu hal menjadi pokok dari pembahasan untuk mengarah pada kesepakatan dan kesatuan dalam pendapat. Berdasarkan hal tersebut, bahwa tujuan dari suatu organisasi atau instansi tentunya dapat tercapai secara optimal apabila proses komunikasinya lancar tanpa adanya suatu hambatan, walaupun ada hambatan, maka komunikator dan komunikan harus dengan cermat segera mengatasi permasalahan yang menyebabkan terjadi suatu hambatan, sehingga proses komunikasi dapat berlangsung.

Sejarah Komunikasi dalam al-Qur’an

     Pada hakekatnya usia komunikasi berbanding lurus dengan usia keberadaan manusia kali pertama diciptakan. Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah di muka bumi ini. Sejak awal kebe– radaannya, Allah sudah menyiapkan untuk Adam perangkat-perangkat yang memungkinkannya untuk berkomunikasi. Perangkat itu adalah lidah dan segala pendukungnya, pendengaran, penglihatan dan hati. Allah menciptakan telinga agar manusia bisa mendengar. Allah men– ciptakan mata agar manusia bisa melihat. Dan Allah juga menciptakan fu’ad (hati) agar manusia bisa berpikir dan merasa, serta bisa berkomunikasi dengan Allah Swt. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

    “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaikbaiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”

    Ibnu Katsir  dalam Tafsirnya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “memulai penciptaan manusia dari tanah” adalah Adam, bapak seluruh manusia. Sedangkan kata naslahu artinya adalah anak keturunan Adam. Berdasarkan ayat ini dipahami bahwa Adam maupun anak keturunannya termasuk diciptakan oleh Allah dengan perangkat komunikasi yang sama. 

    Setelah perangkat komunikasi berupa lisan, pendengaran, pengli– hatan dan fu’ad (hati) semuanya sudah siap dan berfungsi, maka Allah swt mulai berkomunikasi dengan Adam. Komunikasi pertama adalah saat Allah mengajarkan kepadanya seluruh asma’ (kosa kata). Lalu sete– lah itu, Adam diperintahkan oleh Allah untuk mengajarkan kepada para malaikat kosa kata yang telah diajarkan padanya. Allah berfirman :

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (bendabenda) seluruhnya. Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, "Sebutkanlah kepada-Ku nama bendabenda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah ke– pada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahu– kannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman, "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa  yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (QS. Al-Baqarah: 30-33)

    Menurut pendapat ulama tafsir bahwa yang dimaksud dengan ungkapan asma’ kullaha adalah pengenalan satu persatu objek yang ada di muka bumi seperti nama anak-anak, nama binatang seperti keledai, unta dan kuda, langit, bumi, dataran, lautan, bejana, panci, sampai tempat untuk menyimpan alat-alat kecantikan. Bahkan Ibnu Katsir (1993; 70) mengatakan yang dimaksud asma’ kullaha bukan sekedar kata benda, tetapi juga kata kerja. 

    Dengan kosa kata tersebut maka manusia saling memahami apa yang masing-masing pihak maksudkan. Ketika pesan yang akan dikomunikasikan berupa kosa kata sudah diajarkan kepada Adam dan kepada para malaikat, maka Allah men– ciptakan Hawwa sebagai pasangan hidup dan teman Adam untuk ber– komunikasi. Allah Maha tahu tentang kebutuhan manusia yang tidak mungkin hidup tanpa teman dan tanpa berkomunikasi. Allah swt berfirman:

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang ba– nyak dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (memper– gunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah sela– lu menjaga dan mengawasi kamu.” 

    Tetapi selain Adam dan Hawwa ada makhluk lain yang juga diciptakan oleh Allah dan memiliki pengaruh besar terhadap masa depan kehidupan manusia, baik ataupun buruknya. Makhluk itu adalah Malaikat dan Iblis. Allah menciptakan malaikat yang taat dan tidak pernah membangkang perintah-Nya, dan di sisi lain menciptakan Iblis yang membangkang perintah-Nya. Diantara tugas malaikat adalah membantu manusia untuk melakukan kebaikan. Sedangkan Iblis di hadapan Allah sudah bertekad untuk menghalang-halangi manusia dari jalan Allah swt. Dua jenis makhluk ini memang secara fisik tidak bisa dilihat oleh manusia, tetapi memiliki peran cukup signifikan dalam kehidupan manusia. 

    Cara yang mereka lakukan adalah masuk ke dalam hati manusia. Malaikat berkomunikasi dengan manusia dengan cara memerintahkan yang baik, sedangkan Iblis atau syetan membisikkan kejahatan Al-Quran menceritakan kepada pembacanya tentang bisikan Iblis kepada Adam dan Hawwa. Dengan tipu dayanya, Iblis mampu masuk ke dalam pikiran Adam dan Hawwa lewat pintu keabadian. Iblis yang tahu psikologi manusia yang senang dengan keabadian mendapatkan peluang untuk menggoda Adam dan Hawwa. Iblis lalu mengatakan kepada Adam dan Hawwa bahwa larangan Allah mendekati pohon ‘alkhuld’ itu maksudnya adalah agar Adam dan Hawwa tidak abadi di surga. Tapi kalau mereka memakannya maka mereka berdua akan merasakan kenikmatan surga selama-lamanya. Bisikan tersebut ternyata mendapatkan tempat di hati Adam dan Hawwa yang akhirnya keduanya takluk dan mengikuti bisikan dari Iblis. Allah berfirman: 

    Al-Quran menceritakan kepada pembacanya tentang bisikan Iblis kepada Adam dan Hawwa. Dengan tipu dayanya, Iblis mampu masuk ke dalam pikiran Adam dan Hawwa lewat pintu keabadian. Iblis yang tahu psikologi manusia yang senang dengan keabadian mendapatkan peluang untuk menggoda Adam dan Hawwa. Iblis lalu mengatakan kepada Adam dan Hawwa bahwa larangan Allah mendekati pohon ‘alkhuld’ itu maksudnya adalah agar Adam dan Hawwa tidak abadi di surga. Tapi kalau mereka memakannya maka mereka berdua akan merasakan kenikmatan surga selama-lamanya. Bisikan tersebut ternyata mendapatkan tempat di hati Adam dan Hawwa yang akhirnya keduanya takluk dan mengikuti bisikan dari Iblis. Allah berfirman: 

“(Dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah ka– mu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buahbuahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mende– kati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga). Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Se– sungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua. Maka syaitan membujuk keduanya (un– tuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya auratauratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daundaun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (QS. Al-A’râf: 19-22)

 Dari ayat-ayat tersebut diatas banyak sekali informasi yang yang disampaikan tentang keberadaan komunikasi. Di antara pelajaran yang dapat ambil berdasarkan informasi dari al-Quran di atas adalah:

 a. Komunikasi sudah disiapkan oleh Allah sejak manusia pertama diciptakan. 

b. Perangkat komunikasi paling penting yang diciptakan Allah pendengaran, penglihatan, dan fu’ad (hati). 

c. Dengan perangkat komunikasi, Adam mendapatkan kesempatan terhormat untuk berkomunikasi dengan Allah, Sang Pencipta. Ini adalah bentuk komunikasi manusia dengan Penciptanya. 

d. Manusia memerlukan teman untuk berkomunikasi, buat berbagi rasa dan untuk mendapatkan ketenangan hidup. Untuk mewu– judkan tujuan tersebut Allah menciptakan Hawwa. Komunikasi Adam dengan Hawwa adalah bentuk komunikasi dengan sesama manusia. 

e. Komunikasi lain yang terjadi pada manusia adalah komunikasi dalam diri yang dipengaruhi oleh bisikan baik dari malaikat ataupun bisikan buruk yang berasal dari syetan. Dengan bisikan itu manusia bisa baik dan bisa juga buruk. 

f. Informasi lain yang juga dapat diserap oleh pembaca al-Quran di antaranya adalah tentang jumlah kosa kata yang diajarkan oleh Allah kepada Adam. Informasi ini menunjukkan bahwa kosa kata yang diajarkan Allah kepada Adam sangat banyak, sehingga memungkinkannya untuk mengomunikasikan semua hal yang beliau inginkan.

FUNGSI KOMUNIKASI ISLAM DI ERA DIGITAL

 Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata Latin communication, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini yang dimaksud adalah sama makna. Jadi, kalau ada dua orang yang terlibat dalam komunikasi, misalnya dalam bentuk percakapan maka komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan.

1. Fungsi Informasi

Informasi adalah kehidupan, karena sejak lahir seluruhperangkat untuk menyerap inforamsi seperti mata, telinga dan hati sebgai perangkat utama kehidupan sudah terpasang dan siap difungsikan. Selain alat penangkap informasi, Allah juga sudah menyiapkan perangkat untuk menyampaikan kembali informasi yang telah ditangkap kepada orang lain. Alat itu adalah lidah, dua bibir dan segala hal yang terkait. Prinsip dasar agama Islam dalam menyebarkan informasi adalah penutup rapat informasi yang tidak baik yang terkait dengan orang lain, terutama yang terkait dengan masalh pribadi. Islam melarang namimah atau mengungkapkan kejelekan orang lain, dan mengategorikan perbuatan ini sebagai salah satu dosa besar. Islam melarang orang yang bermimpi jahat untuk menyampaikan isi mimpinya kepada orang lain.              

   Bahakan orang yang bangga menyampaikan informasi tentang kejahatan yang dia lakukan termasuk orang yang tidak diampuni dosanya oleh Allah.14 Pandangan Islam menyebutkan informasi adalah pintu awal seseorang memiliki karakter tertentu, baik atau buruk. Ibnu Qayyim mengatakan bahwa karaktertidak terbentuk otomatis, tetapi melalui tahapan-tahapan. Pembentua karakter dimulai dengan langkah mengumpulkan informasi tentang makna pesan, lalu terbentuk persepsi, lalu muncul keinginan dan akhirnya melahirkan perbuatan. Perbuatan yang dilalukan secara berulang akan melahirkan karakter. Baik tidaknya suatu karakter tergantung dari input informasi yang masuk.

2. Fungsi Meyakinkan

     Fungsi meyakinkan artinya membuat ide, pendapat dan gagasan yang kita miliki bisa diterima oleh orang lain dengan senang hati dan tidak terpaksa. Bahkan bukan sekedar menerima dengan sukarela, mereka yang merasa mantap dengan penjelasan tersebut bisa menjadi pendukung ide itu. Fungsi meyakinkan dalam komunikasi Islam bisa dicapai di antaranya dengan metode hiwar (dialog) dan jidal (debat). 

    Hiwar dilakukan dengan suasana santai, saling mengemukakan pendapat dengan tenang, mungkin didalamnya juga terjadi tarik ulur dan akhirnya berujung kepada suatu kesepakatan mendukung ide bersama atau salah satu ide yang lebih baik. Adapun jidal biasanya lebih seru, kadang-kadang sampai panas dan masing-masing pada ngotot dengan pendapatnya. Orang yang menyampaikan ide cemerlang dengan alasan-alasan dan logika yang kuat biasanya menjadi pemenang dan idenya akan dijadikan rujukan.

3. Fungsi Mengingatkan 

    Lupa adalah sifat yang tidak bisa berpisah dari manusia. Sifat ini sudah ada sejak adanya manusia pertama, Adam as. Ibnu Mandzur dalam Lisan al-Arab mengatakan bahwa di antara rahasia penamaan manusia dengan istilah insan karena manusia memiliki sifat pelupa. Pendapat Ibnu Mandzur itu disandarkan kepada pemahaman Ibnu Abbas tentang QS. Thaha: 115 yang mengisahkan tentang sebab Adam melanggar perintah Allah untuk tidak memakan buah pohon al-Khuldi ternyata memakan buah tersebut dikarenakan lupa. Lupa didefinisikan sebagai ketidakmampuan mengingat kembali suatu hal yang diperlukan pada saat yang di inginkan. Ada banyak faktor yang menjadi penyebab lupa dan kita memerlukan metode untuk mencegah agar kita tidak mudah lupa atau untuk memperkuat ingatan.

    Di antara masalah yang paling banyak dilupakan dan dilalaikan oleh manusia adalah masalah agama. Itulah sebabnya kenapa Islam memerintahkan kepada penganutnya untuk mengulang-ulang suatu ucapan atau perbuatan, terutama dalam masalah-masalah krusial. Dakwah agama adalah salah satu cara untuk menginformasikan kepada manusia agar selalu ingat tentang tujuan hidup dan bagaimana mengisi hidup sebenarnya. Dan metode komunikasi dalam dakwah yang paling cocok untuk merealisasikan fungsi mengingatkan adalah metode tadzkir dan indzar.

4. Fungsi Memotivasi

     Manusia dalam hidupnya memerlukan charge karena semangat hidup manusia secara umum tidak stabil. Charge itu disebut dengan motivasi. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan mtoivasi hidup seseorang menjadi tidak stabil. Menurut al-Kirmani, penurunan kualitas manusia itu bsa disebabkan oleh tiga faktor, yaitu : jiwa, fisik dan eksternal. Adapun jiwa tergantung dari kekuatan yang dimiliki manusia yaitu kekuatan akal, kekuatan marah, dan kekuatan syahwat. Hamm (galau dengan masa depan) dan Hazn (sedih dengan masa lalu) adalah dua penyakit yang menyerang akal. Jubn (pengecut) adalah penyakit yang menyerang kekuatan marah. Sedangkan Bukhl (bakhil) adalah penyakit yang menyerang kekuatan syahwat. Adapun yang melemahkan kekuatan fisik adalah penyakit 'Ajaz (merasa tidak punya potensi) dan Kasal (malas, padahal mampu). 

    Sedangkan pengaruh eksternal yang membuat manusia kehilangan potensi adalah lilitan hutang dan berada dibawah tekanan orang lain. Hutang membuat orang menjadi lemah, dan berada dibawah tekanan orang lain membuat kehilangan harga diri.18 Mengucapkan secara berulang-ulang setiap pagi dan petang tentang halhal yang hendak kita hindari atu hal-hal yang seharusnya kita lakukan adalah metode komunikasi antara manusia dengan Tuhannya dan dengan dirinya sendiri untuk membuang penyakit-penyakit mental yang ada di dalam dirinya yang membuatnya terbelenggu dan menumbuhkan nilai-nilai positif sehingga dia bisa terbang bebas merealisasikan mimpinya. 

    Metode memotivasi diri sendiri adalah metode yang paling ideal. Metode ini praktis, murah dan mudah, tetapi dahsyat hasilnya. Selain metode memotivasi diri sendiri, manusia juga bisa termotivasi jika mendapat suntikan motivasi dari orang lain. Komunikasi adalah salah satu cara untuk menyuntikkan motivasi kepada orang lain. Metode yang paling cocok untuk menyuntikkan motivasi dalam komunikasi Islam adalah metode tabligh dan tabsyir.

5. Fungsi Sosialisasi

     Manusia dalam hidupnya tidak lepas dari berbagai macam kebutuhan. Banyak teori yang menjelaskan tentang teori kebuthan, dan diantara yang paling terkenal adalah teori Maslow. Dalam bukunya "Motivation and Personality", Maslow memberikan lima jenjang kebutuhan pokok manusia. Di antara lima jenjang kebutuhan itu, kebutuhan untuk disayangi oleh orang di sekitarnya ditempatkan oleh Maslow pada urutan ketiga. 

    Apapun komentar orang tentang teori ini, kebutuhan kita semua untuk bisa diterima dan dihargai. Tidak mungkin sosialisasi dilahirkan tanpa komunikasi. Dalam alQur'an, fungsi sosialisasi disebut dengan ta'aruf. Dan di dalam hadis, Rasulullah menyebutnya dengan mukhalathah. 20 Ta'aruf adalah salah satu metode komunikasi yang efektif. Dengan ta'aruf, hubungan antar manusia menjadi tersambung. Ta'aruf yang baik akan melahirkan keinginan untuk saling membantu bahkan sampai ke tingkat saling mengayomi.

6. Fungsi Bimbingan Di antara fungsi komunikasi adalah untuk membimbing manusia. Tidak semua kita mampu mebaca kemampuan kita sendiri, dan tidak semua kita mampu menyelesaikan masalah kita sendiri. Padahal hidup tidak pernah sepi dari masalah. Disinilah manusia memerlukan orang lain untuk membimbingnya mencari solusi atau mengarahkannya ke tempat yang tepat. Dalam istilah komunikasi Islam, fungsi bimbingan ini disebut dengan Irsyad. Ada empat fokus utama aktivitas komunikasi dalam membimbing seseorang : pertama, membimbing orang untuk melakukan perbuatan baik dan menangkal mereka untuk melakukan perbuatan yang negatif; kedua, memperbaiki atau memulihkan kondisi mereka yang sudah rusak; ketiga, mengarahakan orang untuk menemuukan potensi yang mereka miliki; dan keempat, mengembangkan potensi manusia agar lebih maksimal.

 Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, tetapi berpotensi menjadi rusak karena dalam diri manusia terdapat sifat fujur. Bimbingan akan berfungsi sebagai pencegahan jika dilakukan sejak dini sebelum seorang anak terkontaminasi dengan lingkungannya.

7. Fungsi Kepuasan Spiritual 

    Manusia terbentuk dari dua unsur, yang keduanya memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Tubuh memerlukan makanan, pakaian, tempat tinggal dan segala hal yang mendukung keselamatannya. Sedangkan kebutuhan ruh adalah berkomunikasi dengan Allah, Sang Pencipta. Ketika ruh bersambung dengan Sang Penciptanya, hati menjadi tenang. Al-Qur'an menyatakan bahwa sumber ketenangan hati adalah dzikir. Di antara metode memuaskan spiritual adalah dengan memberikan mau'idzah dan nasihat kepada mereka.

8. Fungsi Hiburan 

    Dalam hidup ini, kita hanya akan berhadapan dengan dua kemungkinan, yaitu bahaga atau sedih. Tidak ada orang yang seumur hidupnya hanya merasakan kebahagiaan. Suatu saat dia akan mengalami masa-masa berat dalam hidupnya. Tetapi tidak ada juga orang semasa hidupnya hanya merasakan penderitaan, pasti ada waktu-waktu dia bisa tertawa dan mengalami masa-masa bahagia. Ketika mendapatkan kebahagiaan, Islam mengajarkan kepada penganutnya agar mengucapkan syukur atas nikmat yang telah didapat. 

Dan kepada saudranya yag mengetahui temannya mendapatkan nikmat dianjurkan untuk menambah rasa bahagia saudaranya dengan mencupkan selamat kepadanya Selain rasa bahagia, kadang-kadang kita juga diselimuti oleh rasa takut. Takut kehilangan orang yang dicintai, takut dengan ketidak jelasan masa depan, takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan harta, dan seterusnya. Semua kita pasti merasa lelah. Kadang harus berhadapan dengan kesulitan, diuji dengan berbagai kasus, bahkan tidak jarang harus menderita. Dalam kondisi seperti itu, hati kita sangat perlu kepada hiburan. Hati yang terhibur akan membuat rasa takut menjadi hilang, lelah akan hilang, derita terobati, dan kondisi kita menjadi segar kembali.

    Komunikasi Islam memiliki banyak fungsi dalam penggunaannya oleh masyarakat luas. Beberapa fungsi komunikasi Islam adalah fungsi informasi diambil dari istilah naba’ dan khabar. Fungsi meyakinkan diambil dari metode hiwar dan jidal. Fungsi mengingatkan diambil dari metode tadzkir dan indzar. Fungsi memotivasi diperoleh dari metode tabligh dan tabsyir. Fungsi sosial di peroleh dari dari metode ta’aruf. Fungsi bimbingan dari metode irsyad dan wasiat. Fungsi kepuasan spiritual dari mau’idzah dan nasihat, dan terakhir fungsi hiburan diambil dari istilah idkhal al-surur. Di era digital, fungsi tersebut dengan mudah diterapkan karena mengikuti kemudahan yang diberikan kepada komunikator dan komunikan. Namun perlu adanya batasan-batasan yang harus dilakukan agar fungsi-fungsi komunikasi Islam yang diterapkan mampu membawa manfaat kepada diiri sendiri dan masyarakat secara umum dan terhindar hari hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya yang dianut. 

ETIKA KOMUNIKASI DALAM PERSFEKTIF ISLAM

    

Definisi Etika Komunikasi Persfektif Islam Dari segi etimologi, etika berasal dari bahasa Yunani, ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat (Achmad Charris Zubair, 1980:13). Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, etika diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak . Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “etika” berarti ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak), kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Dari pengertian pengetahuan kebahasaan ini terlihat bahwa etika berhubungan dengan upaya menentukan tingkah laku manusia.

    Sementara itu, dalam Encyclopedia Britanica, etika didefinisikan sebagai berikut: “Ethics is the branch of philosophy that is concerned with what ismorally good on bad, right and wrong, a synonym for it is moral philosophy.” Artinya, etika adalah cabang filsafat mengenai kesusilaan baik dan buruk, benar dan salah, etika merupakan sinonim dari filsafat moral. Adapun arti etika dari segi terminologi (istilah) yaitu sebagaimana yang telah dikemukakan oleh para ahli dengan ungkapan yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing.  misalnya mengartikan etika adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat. Sedangkan Menurut Soegarda Poerbakawatja etika adalah filsafat nilai, pengetahuan tentang nilai-nilai, ilmu yang mempelajari soal kebaikan dan keburukan di dalam hidup manusia semuanya, terutama mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang merupakan pertimbangan dan perasaan sampai mengenai tujuannya bentuk perbuatan. Sementara itu, penger-tian etika menurut Ki Hajar Dewantara adalah ilmu yang mempelajari soal kebaikan dan keburukan dalam kehidupan manusia, terutama yang berkaitan dengan gerak-gerik pikiran dan rasa yang merupakan pertimbangan dan perasaan, sehingga dapat mencapai tujuannya dalam bentuk perbuatan.

Jadi yang dimaksud dengan Etika adalah Ilmu yang membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia atau tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Selanjutnya komunikasi yaitu berasal dari bahasa Inggris yaitu “communication” yang berarti : perhubungan, kabar, perkabaran. Istilah tersebut, menurut Anwar Arifin,berasal dari bahasa latin yaitu “communicatio” artinya pemberitahuan, memberi bahagian, pertukaran dimana si pembicara mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya. Kata sifatnya yaitu communis yang berarti “bersifat umum dan terbuka, bersama-sama”. Sedangkan kata kerjanya adalah “communicara” yang berarti “bermusya-warah”, berunding dan berdialog”.

Konsep Etika Komunikasi Perspektif Islam

Teori komunikasi menurut ajaran Islam selalu terikat kepada perintah dan larangan Allah swt atau Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad saw Pada dasarnya agama sebagai kaidah dan sebagai perilaku adalah pesan (informasi) kepada warga masyarakat agar berperilaku sesuai dengan perintah dan larangan Tuhan. Dengan kata lain komunikasi menurut ajaran agama sangat memuliakan etika yang dibarengi sanksi akhirat. Al-Qur’an juga menyebut komunikasi sebagai salah satu fitrah manusia. Untuk mengetahui bagaimana manusia seharusya berkomunikasi. Al-Qur’an memberikan kata kunci (key concept) yag berhubungan dengan hal itu. Al-Syaukani misalnya mengartikan kata kunci al-bayan sebagai kemampuan berkomuni-kasi. Selain itu, kata kunci yang diperguna-kan AlQur’an untuk komunikasi ialah al-qaul. Dari al-qaul ini, Jalaluddin Rakhmat menguraikan prinsip, qaulan sadidan yakni kemampuan berkata benar atau berkomuni-kasi dengan baik.

        Dengan komunikasi, manusia mengekspresikan dirinya, membentuk jaringan interaksi sosial, dan mengembangkan kepribadiannya. Para pakar komunikasi sepakat dengan para psikolog bahwa kegagalan komunikasi berakibat fatal baik secara individual maupun sosial. Secara sosial, kegagalan komunikasi menghambat saling pengertian, menghambat kerja sama, menghambat toleransi, dan merintangi pelaksanaan norma-norma sosial Al-Qur’an menyebut komunikasi sebagai salah satu fitrah manusia. Dalam QS. Al-Rahman : ayat 1 – 4. (Tuhan) yang Maha pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Qur'an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. (QS. Al-Rahman : 1 – 4)

Al-Syaukani (t.th:251) dalam Tafsir Fath al-Qadir mengartikan al-bayan sebagai kemampuan berkomunikasi. Untuk mengetahui bagaimana orang-orang seharusnya berkomunikasi secara benar (qaulan sadidan), harus dilacak kata kunci (keyconcept) yang dipergunakan Al-Qur’an untuk komunikasi. Selain al-bayan, kata kunci untuk komunikasi yang banyak disebut dalam AlQur’an adalah “al-qaul” dalam konteks perintah (amr), dapat disimpulkan bahwa ada enam prinsip komunikasi dalam Al-Qur’an.

 1.  َ perkataan (ق ا benar, lurus, jujur). Kata “qaulan sadidan” disebut dua kali dalam Al-Qur’an. Pertama Allah menyuruh manusia menyampaikan qaulan sadidan (perkataan benar) dalam urusan anak yatim dan keturunan, yakni (QS. An-Nisa: Ayat :9) sebagai berikut ِّزَّٝةٗ ٌِٖۡ ذُ ِف ۡ ِ ٍِۡ َ خي ْ َس ُم٘ا ۡ٘ تَ ِر َ ِٝ ىَ َّ ۡخ َش ٱى َٞ ۡ َٗى َٰفًب ْ قَۡ٘ٗٗل ِضعَ ُ٘ا َٞقُ٘ى ۡ ٗى َّ ٱَّللَ َ ْ َٞتَّقُ٘ا ۡ ٌِٖۡ فَي َ عيَۡٞ ْ َخبفُ٘ا َس ٩ِ دٝدًا Artinya: Danhendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An-Nisa: 9).

    Kedua, Allah memerintahkan qaulan sesudah takwa, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ahzab: Ayat:70 ِر َ ِٝ َ ءا َّ َٖب ٱى ُّٝ َ أ ََٰٰٓ ْ قَۡ٘ٗٗل َٝ ُ٘ا ٗقُ٘ى َّ ٱَّللَ َ ْ ْ ٱتَّقُ٘ا ٍَُْ٘ا َس ٓ٠ِ د ٗٝدا Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. (QS. AlAhzab:70).

    Wahbah al-Zuhaily  mengartikan qaulan sadidan pada ayat ini dengan ucapan yang tepat dan bertanggung jawab, yakni ucapan yang tidak bertentangan dengan ajaran agama. Selanjutnya ia berkata bahwa surah al-Ahzab ayat 70 merupakan perintah Allah terhadap dua hal: Pertama, perintah untuk melaksana kan ketaatan dan ketaqwaan dan menjauhi larangan-Nya. Kedua, Allah memerintahkan kepada orangorang yang beriman untuk berbicara dengan qaulan sadidan, yaitu perkataan yang sopan tidak kurang ajar, perkataan yang benar bukan yang batil. Jadi, Allah SWT memerintahkan manusia untuk senantiasa bertakwa yang dibarengi dengan perkataan yang benar. Nanti Allah akan membalikkan amal-amal kamu, mengampuni dosa kamu, siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya niscaya ia akan mencapai keberuntungan yang besar. Jadi, perkataan yang benar merupakan prinsip komunikasi yang terkandung dalam Al- Qur'an dan mengandung beberapa makna dari pengertian benar.

2  Qaulan baligha

  perkataan (قَ yang membekas pada jiwa, tepat sasaran, komunikatif, mudah mengerti).Ungkapan ini terdapat dalam QS An-Nisa ayat 63 yang berbunyi “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka Qaulan Baligha –perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”.(QS An-Nisa:63). 

Kata “baligh” dalam bahasa arab artinya sampai, mengenai sasaran atau mencapai tujuan. Apabila dikaitkan dengan qaul (ucapan atau komunikasi), “baligh” berarti fasih, jelas maknanya, terang, tepat menggunakan apa yang dikehendaki. Oleh karena itu prinsip qoulan balighan dapat diterjemahkan sebagai prinsip komunikasi yang efektif.

    Jalaluddin Rahmat  memerinci pengertian qaulan baligha menjadi dua, qaulan baligha terjadi bila da’i (komunikator) menyesuaian pembi-caraannya dengan sifatsifat khalayak yang dihadapinya sesuai dengan frame of reference and field of experience. Kedua, qaulan baligha terjadi bila komunikator menyentuh khalayaknya pada hati dan otaknya sekaligus. Jika dicermati pengertian qaulan baligha yang diungkapkan oleh Jalaluddin Rahmat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kata Qaulan Baligha artinya menggunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah (straight to the point), dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele. Agar komunikasi tepat sasaran, gaya bicara dan pesan yang disampaikan hendaklah disesuaikan dengan kadar intelektualitas komunikan dan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh mereka.

 Sebagai orang yang bijak bila berdakwah kita harus melihat situasi dan kondisi yang tepat dan menyampaikan dengan kata-kata yang tepat. Bila bicara dengan anak-anak kita harus berkata sesuai dengan pikiran mereka, bila dengan remaja kita harus mengerti dunia mereka. Jangan sampai kita berdakwah tentang teknologi nuklir dihadapan jamaah yang berusia lanjut yang tentu sangat tidak tepat sasaran, malah membuat mereka semakin bingung. Gaya bicara dan pilihan kata dalam berkomunikasi dengan orang awam tentu harus dibedakan dengan saat berkomunikasi dengan kalangan cendekiawan. Berbicara di depan anak TK tentu harus tidak sama dengan saat berbicara di depan mahasiswa. 

Rasulullah sendiri memberi contoh dengan khotbah-khotbahnya. Umumnya khotbah Rasulullah pendek, tapi dengan kata-kata yang padat makna. Nabi Muhammad menyebutnya “jawami al-qalam”. Ia berbicara dengan wajah yang serius dan memilih kata-kata yang sedapat mungkin menyentuh hati para pendengarnya. Irbadh bin Sariyah, salah seorang sahabatnya bercerita: “Suatu hari Nabi menyampaikan nasihat kepada kami. Bergetarlah hati kami dan berlinang air mata kami. Seorang diantara kami berkata Ya Rasulullah, seakanakan baru kami dengar khotbah perpisahan. Tambahlah kami wasiat”. Tidak jarang disela-sela khotbahnya, Nabi berhenti untuk bertanya kepada yang hadir atau memberi kesempatan kepada yang hadir untuk bertanya. Dengan segala otoritasnya, Nabi adalah orang yang senang membuka dialog.

3. Qaulan masyura (perkataan yang ringan)

Dalam komunikasi, baik lisan maupun tulisan, mempergunakan bahasa yang mudah, ringkas dan tepat sehingga mudah dicerna dan dimengerti. Dalam Al-Qur’an ditemukan istilah qaulan maisura yang merupakan salah satu tuntunan untuk melakukan komunikasi dengan mempergunakan bahasa yang mudah dimengertidan melegakan perasaan.

Firman Allah dijelaskan:

“Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”. (QS. Al-Israa’: 28). 

Maisura seperti yang terlihat pada ayat diatas sebenarnya berakar pada kata yasara, yang secara etimologi berarti mudah atau pantas. Sedangkan qaulan maisura menurut Jalaluddin Rakhmat, sebenarnya lebih tepat diartikan “ucapan yang menyenangkan,” lawannya adalah ucapan yang menyulitkan. Bila qaulan ma’rufa berisi petunjuk via perkataan yang baik, qaulan maisura berisi hal-hal yang menggembirakan via perkataan yang mudah dan pantas (Jalaluddin Rahmat, 2001:83). Komunikasi dengan qaulan maisura yang artinya pesan yang disampaikan itu sederhana, mudah dimengerti dan dapat dipahami secara spontan tanpa harus berpikir dua kali.

    Berdasarkan bahasan di atas dapat diketahui bahwa komunikasi mendapat perhatian sangat besar dalam agama Islam dan mengarahkannya agar setiap muslim memakai etika islami dalam berkomunikasi. Hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya ayat-ayat yang berkaitan dengan etika komunikasi, baik dalam Al-Qur’an maupun hadits. Islam sebagai wahyu yang diberikan oleh Allah mengajarkan kepada umatnya agar mampu berkomunikasi dengan baik sesuai dengan akidah yang telah diajarkanya dengan pedoman Al Qur’an sebagai sandaran. 

Sebab hanya manusialah satusatunya makhluk yang oleh Allah diberikan karunia untuk mampu berbicara. Dengan kemampuan tersebut manusia mampu dan memungkinkan untuk dapat membangun suatu hubungan social dengan berkomunikasi. Dalam berkomunikasi Allah telah memberikan petunjuk bagi hambanya, agar dalam berkomunikasi mereka mampu menjalin komunikasi yang baik. Komunikasi yang sesuai dengan ajaran Al Qur’an dengan segenap prinsip-prinsip didalamnya dan dengan etika-etika tertentu akan menjadikan komunikasi dapat membuat komunikasi berjalan sesuai dengan yang diharapkan, tujuan dalam berkomunkasi dapat tercapai, sehingga komunikasi dapat dikatakan baik

. Dalam menjalankan kehidupannya, manusia memerlukan komunikasi agar proses kehidupan mereka dapat berlangsung. Manusia tidak hanya bisa berkomunikasi dengan sesamanya, namun manusia juga perlu berkomunikasi dengan tuhannya dan berkomunikasi dengan alam semesta. 

Pelanggaran Etika Komunikasi